Sumatera Selatan – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mempercepat transisi energi dengan memulai proyek strategis PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW). Pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 menjadi bagian dari upaya PGE meningkatkan pasokan listrik berbasis energi terbarukan sekaligus menekan emisi karbon dari sektor energi.
Direktur Operasi PGE, Ahmad Yani, menegaskan proyek panas bumi ini krusial dalam mendukung percepatan transisi energi yang dicanangkan pemerintah. "Pengembangan energi baru dan terbarukan kini memasuki fase krusial, sejalan dengan arah kebijakan nasional," ujar Ahmad Yani dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).
PLTP Lumut Balai Unit 3 berlokasi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lumut Balai, Sumatera Selatan, dan ditargetkan beroperasi penuh pada tahun 2030. Menurut Ahmad Yani, proyek ini telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dan tercatat dalam Blue Book 2025–2029 Kementerian PPN/Bappenas.
PGE menilai PLTP Lumut Balai Unit 3 berperan penting dalam memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Selatan yang terus meningkat, dengan memasok energi rendah emisi. PLTP Lumut Balai Unit 3 merupakan kelanjutan dari Unit 2 dengan kapasitas serupa, 55 MW, yang telah beroperasi sejak Juni 2025.
Dengan tambahan unit ini, PGE menargetkan peningkatan kapasitas panas bumi nasional secara bertahap. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri mencapai 1 gigawatt dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dan 1,8 gigawatt pada 2033.
PGE mengklaim telah mengidentifikasi potensi panas bumi hingga 3 gigawatt dari 10 wilayah kerja panas bumi yang dikelola secara mandiri. Potensi ini menjadi modal penting dalam mendukung target penurunan emisi dan bauran energi bersih nasional.
Selain berkontribusi terhadap pasokan listrik rendah karbon, pengembangan panas bumi memberikan dampak ekonomi signifikan. Sektor panas bumi mencatatkan penerimaan negara bukan pajak sekitar Rp 21,43 triliun sepanjang 2010 hingga 2024. Sektor ini juga menyalurkan dana bagi hasil kepada daerah penghasil sebesar Rp 10,82 triliun pada periode 2019 sampai 2024.
Saat ini, PGE mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW di enam wilayah operasi. Perusahaan juga tengah mengembangkan proyek panas bumi lainnya, termasuk PLTP Hululais Unit 1 dan 2 serta proyek co-generation bersama PLN Indonesia Power. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi penguatan energi bersih nasional.











