Ketapang – Lebih dari 200 ribu pemudik memadati Pelabuhan Ketapang sejak H-10 hingga H-7 Lebaran, Minggu (15/3/2026), dalam perjalanan dari Bali menuju Jawa, didominasi kendaraan roda dua. PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang menerapkan strategi percepatan penyeberangan.
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, mengatakan skema tiba bongkar berangkat (TBB) menjadi andalan. "Skema TBB diterapkan dengan pola kapal hanya menurunkan muatan di Pelabuhan Ketapang tanpa melakukan proses muat kembali, kemudian langsung berlayar kembali ke Gilimanuk untuk mengangkut kendaraan berikutnya," jelas Arief. Dari 35 kapal yang beroperasi, 11 di antaranya menerapkan skema TBB. ASDP berencana menambah kapal berukuran besar untuk meningkatkan kapasitas angkut. "Jumlah kapal yang beroperasi kemungkinan tetap sekitar 35 unit. Tapi komposisinya akan kita perkuat dengan kapal-kapal yang ukurannya lebih besar," kata Arief.
Wakil Menteri Perhubungan Suntana meninjau kepadatan di Pelabuhan Gilimanuk dan menggelar rapat koordinasi percepatan arus kendaraan. "Saya ke sini hanya ingin mempercepat arus dari sana (Gilimanuk)," ujar Suntana.
Sejumlah pemudik mengeluhkan antrean panjang. Kholik, pemudik asal Probolinggo, mengaku menunggu lebih dari 10 jam untuk naik kapal. "Berangkat jam 10 malam. Naik kapal dari Gilimanuk baru setelah magrib. 10 Jam lebih saya dan rombongan menunggu," katanya. Pemudik lain, Heri, menyebut antrean kendaraan mencapai lebih dari 30 kilometer. "Saya berangkat dari Seminyak, Bali jam 8 malam. Sampai sini (Pelabuhan Ketapang) hampir jam 7 malam. Macetnya lebih dari 30 kilometer," ungkap Heri.
ASDP memprediksi peningkatan arus kendaraan dari Bali menuju Jawa berlanjut hingga 17 Maret, sebelum penyeberangan ditutup pada 18-20 Maret karena Nyepi. Tercatat lebih dari 35 ribu sepeda motor dan sekitar 17 ribu kendaraan kecil telah menyeberang melalui Pelabuhan Gilimanuk.










