Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendesak pemerintah menerapkan kebijakan ekonomi yang menyeimbangkan sisi penawaran dan permintaan secara bersamaan. Langkah ini dinilai krusial merespons dinamika geopolitik serta ketidakpastian ekonomi global.
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menjelaskan dari sisi penawaran, pemerintah harus memastikan biaya usaha terkendali, arus kas perusahaan terjaga, serta memberikan kepastian berusaha. Sementara dari sisi permintaan, penguatan daya beli masyarakat menjadi faktor penentu utama.
Untuk jangka pendek, Apindo menyarankan pemerintah memprioritaskan stabilitas makroekonomi guna meredam transmisi guncangan global. Strategi ini mencakup pengendalian harga energi, menjaga stabilitas nilai tukar, serta menjamin kelancaran logistik dan rantai pasok nasional.
Shinta menekankan kebijakan yang diambil pemerintah harus adaptif, terukur, dan berbasis pada pemetaan sektor. Selain itu, pemberian stimulus yang lebih terarah bagi industri padat karya serta upaya menekan biaya ekonomi tinggi melalui deregulasi dinilai sangat mendesak untuk menjaga daya saing.
Dalam jangka menengah hingga panjang, Apindo mendorong strategi struktural untuk memperkuat resiliensi ekonomi nasional. Fokus utama meliputi percepatan ketahanan energi, pengembangan energi alternatif, serta penyesuaian bauran energi yang selaras dengan infrastruktur dan kebutuhan industri.
Selain itu, penguatan sektor hulu domestik menjadi langkah krusial untuk menekan ketergantungan terhadap bahan baku impor. Apindo juga mendukung reformasi subsidi energi secara bertahap dan terukur, dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat serta efisiensi biaya logistik.
Shinta menegaskan semangat "Indonesia Incorporated" sangat relevan untuk menghadapi tekanan global secara kolektif. Ia berharap pemerintah dan pelaku usaha terus menjalin dialog konstruktif guna mengidentifikasi serta memitigasi dampak kebijakan secara tepat.
Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan ekonomi yang menyasar sisi penawaran dan permintaan secara bersamaan. Langkah ini dinilai krusial untuk merespons dinamika geopolitik serta ketidakpastian ekonomi global saat ini.
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menjelaskan bahwa dari sisi penawaran, pemerintah perlu memastikan biaya usaha tetap terkendali, menjaga kesehatan arus kas perusahaan, serta memberikan kepastian usaha. Sementara dari sisi permintaan, penguatan daya beli masyarakat menjadi kunci utama.
Untuk jangka pendek, Apindo menyarankan pemerintah memprioritaskan stabilitas makroekonomi guna meredam guncangan global. Strategi ini mencakup pengendalian harga energi, menjaga stabilitas nilai tukar, serta menjamin kelancaran logistik dan rantai pasok.
Shinta menambahkan, kebijakan yang diambil harus bersifat adaptif, terukur, dan berbasis pemetaan sektor. Pemerintah juga diharapkan memberikan stimulus yang lebih terarah, khususnya bagi industri padat karya, serta melakukan deregulasi untuk menekan biaya ekonomi tinggi demi menjaga daya saing.
Dalam jangka menengah hingga panjang, Apindo mendorong strategi struktural untuk memperkuat resiliensi ekonomi nasional. Fokus utama meliputi percepatan ketahanan energi, pengembangan energi alternatif, serta penyesuaian bauran energi agar selaras dengan infrastruktur dan kebutuhan industri.
Selain itu, penguatan sektor hulu domestik dinilai penting untuk menekan ketergantungan pada bahan baku impor. Apindo juga mendukung reformasi subsidi energi secara bertahap dan terukur dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat serta efisiensi biaya logistik.
Shinta menegaskan, semangat "Indonesia Incorporated" sangat relevan untuk merespons tekanan global secara kolektif. Ia berharap adanya ruang dialog yang konstruktif dan berkelanjutan antara pemerintah dan pelaku usaha untuk mengidentifikasi serta memitigasi dampak kebijakan secara tepat.











