Jakarta – Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (5/2/2026), menyentuh level Rp 16.842 per dolar AS. Pelemahan ini tercatat sebesar 65 poin atau 0,39 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 16.777 per dolar AS.
Analis Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Taufan Dimas Hareva, menyebut sentimen pasar terhadap kebijakan moneter AS menjadi penyebab utama. "Tekanan datang dari faktor eksternal, seiring penguatan dolar AS secara global," ujar Taufan.
Taufan menambahkan, pelaku pasar cenderung berhati-hati menanti arah kebijakan moneter AS. Ekspektasi suku bunga The Fed yang masih tinggi membuat aset berbasis dolar AS tetap menjadi primadona, memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi domestik, rilis data pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro turut mewarnai sentimen pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 sebesar 5,11 persen (year-on-year/yoy), dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp13.580,5 triliun. Pertumbuhan ekonomi ini didukung oleh konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Taufan menilai intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing mampu menahan pelemahan rupiah lebih dalam. "Kehadiran Bank Indonesia di pasar valas serta fundamental ekonomi domestik yang relatif terjaga berpotensi menahan pelemahan agar tetap terbatas," jelasnya.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia hari ini juga menunjukkan pelemahan ke level Rp16.826 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.775 per dolar AS.










