Jakarta – Iran dilaporkan berhasil melumpuhkan sekitar 80 persen lalu lintas data Starlink di wilayahnya. Langkah ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi peperangan elektronik canggih buatan Rusia. Sistem tersebut secara efektif mengganggu aktivitas unggah dan unduh data yang menggunakan layanan internet satelit milik Elon Musk tersebut.
Teknologi yang digunakan Iran menargetkan sinyal GPS. Sinyal GPS merupakan andalan terminal Starlink untuk terhubung ke satelit. Informasi yang beredar menyebutkan, sistem peperangan elektronik yang digunakan adalah Murmansk-BN.
Murmansk-BN merupakan sistem peperangan elektronik (EWS) yang dirancang untuk menghadapi jet tempur siluman F-35 Lightning II. Sistem ini diklaim sebagai salah satu jammer terkuat yang dimiliki Rusia. Iran telah menempatkan Murmansk-BN di lokasi strategis di seluruh negeri.
Murmansk-BN memiliki kemampuan melakukan pengintaian radio, mencegat, dan menekan sinyal musuh di seluruh jangkauan gelombang pendek. Jangkauan operasional sistem ini mencapai 8.000 kilometer. Sistem ini dapat dikerahkan dalam waktu 72 jam.
Murmansk-BN mencakup tiang antena sepanjang 32 meter yang dipasang di kendaraan truk dan trailer Kamaz. Sistem ini mampu meng-cover area seluas 640.000 km persegi. Murmansk-BN dapat mengganggu sinyal radio, GPS, komunikasi, dan sistem satelit musuh. Akibatnya, amunisi “pintar” dan sistem drone menjadi tidak efektif.
Sistem yang dikembangkan perusahaan Rusia KRET sejak 2014 ini dirancang untuk mengganggu komunikasi satelit militer frekuensi tinggi milik NATO dan AS.
Forbes melaporkan, pendekatan “kill switch” yang dilakukan Iran menelan biaya US$1,56 juta atau Rp24 miliar per jam.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman AS.











