Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merespons penurunan minat investor terhadap Surat Utang Negara (SUN) di awal tahun 2026. Indikasi ini terlihat dari rasio penawaran terhadap dana yang dimenangkan (bid to cover ratio) yang lebih rendah dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Rata-rata bid to cover ratio pada lima lelang SUN awal 2026 tercatat 1,95 kali, lebih rendah dari rata-rata 2,27 kali pada periode yang sama tahun 2025.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Suminto, menjelaskan beberapa faktor yang memengaruhi penurunan minat investor. "Meningkatnya ketidakpastian geopolitik global mempengaruhi sentimen pasar keuangan, termasuk minat investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN)," ujar Suminto, Minggu (8/3/2026).

Faktor musiman seperti libur panjang Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri juga meningkatkan kebutuhan likuiditas domestik. Penurunan penawaran terlihat dari lelang SUN pada Selasa, 3 Maret 2026, yang hanya mencapai Rp 50,9 triliun, menurun dibandingkan penawaran investor bulan sebelumnya yang mencapai Rp 63 triliun, atau lelang Januari yang mencapai Rp 90,96 triliun.

Menanggapi kondisi ini, Kemenkeu menyatakan akan mengambil langkah antisipatif dengan menerapkan strategi yang prudent, fleksibel, dan oportunistik dalam mengelola pembiayaan APBN.

"Penerbitan SBN, termasuk melalui lelang, dilakukan secara fleksibel dan oportunistik menyesuaikan perkembangan kebutuhan pembiayaan APBN, posisi kas pemerintah, dan kondisi pasar keuangan," jelas Suminto.

Kemenkeu memiliki ruang untuk menyesuaikan volume penerbitan maupun komposisi instrumen pada setiap lelang. Tujuannya untuk menjaga biaya utang tetap efisien serta pembiayaan yang optimal. Pemerintah saat ini tidak melihat kebutuhan untuk mengubah frekuensi lelang dan target penerbitan SBN tetap ditetapkan secara triwulanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *