Jakarta – Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penipuan digital yang semakin canggih, dengan teknologi rekayasa seperti deepfake dan akun palsu menjadi alat baru bagi pelaku kejahatan.
Vida, penyedia layanan identitas digital dan pencegahan penipuan, mengidentifikasi lemahnya sistem verifikasi identitas digital sebagai penyebab utama masalah ini.
Niki Santo Luhur, Pendiri dan Kepala Eksekutif Vida, menyoroti perkembangan pesat konten manipulatif dalam tiga tahun terakhir.
"Hanya dengan rekaman 15 menit, deepfake clone atau voice clone profesional bisa dibuat," kata Niki.
Ia menambahkan bahwa satu perintah saja sudah cukup untuk menciptakan foto seseorang dengan latar dan konteks yang berbeda.
Penggunaan virtual camera yang memanipulasi tampilan wajah saat proses verifikasi menjadi celah utama dalam kasus deepfake.
Niki mencontohkan kasus fraud device farm yang terhubung dengan 48 juta rekening global, serta peretasan aset kripto senilai 1,5 miliar dolar AS oleh kelompok peretas yang diduga didukung negara.
"Lima tahun lalu, ini mungkin hanya ada di serial TV. Sekarang, ini adalah realitas," tegasnya.
Fenomena ini menjadi momentum penting untuk memperbarui standar keamanan digital.
Vida kini mengembangkan teknologi verifikasi dan autentikasi yang menjadikan identitas sebagai fondasi kepercayaan di dunia digital.
"Hampir semua masalah fraud yang kita lihat saat ini berakar pada masalah identitas," pungkas Niki.











