Jakarta – Gletser Thwaites di Antartika, dijuluki "Gletser Kiamat," diguncang ratusan gempa bumi, mengkhawatirkan potensi keruntuhan yang dapat memicu banjir dahsyat setinggi 3,05 meter.
Studi terbaru dalam Jurnal Geophysical Research Letters mengungkapkan bahwa gletser raksasa ini lebih rapuh dari perkiraan sebelumnya.
Ahli seismologi dari Australian National University, Thanh-Son Phám, menekankan pentingnya pemantauan intensif terhadap gletser ini, menyarankan pemasangan jaringan seismik khusus di Antartika.
"Tujuannya untuk memantau dinamika gletser, yang berpotensi berubah secara tiba-tiba dalam beberapa dekade atau bahkan tahun mendatang," kata Phám.
Terhitung 362 peristiwa seismik terdeteksi antara tahun 2010 dan 2023, sebagian besar berpusat di Antartika Barat, lokasi Gletser Thwaites dan Gletser Pulau Pine.
Gempa bumi gletser ini tercatat mencapai magnitudo 5.0 dan seringkali berkaitan dengan pecahnya gunung es di wilayah Arktik.
Phám mengembangkan algoritma khusus untuk mendeteksi pola gelombang dari monitor seismik, menunjukkan bahwa 245 dari 362 gempa berasal dari Gletser Thwaites.
Para ilmuwan khawatir akan potensi keruntuhan Gletser Thwaites, yang berperan penting sebagai penyumbat es yang mencegah lapisan es Antartika Barat meluncur ke laut.











