Jakarta – Rupiah diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar AS pada awal pekan depan. Proyeksi ini mengikuti pelemahan yang terjadi pada penutupan perdagangan di akhir pekan.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.780 hingga Rp 16.810 per dolar AS pada hari Senin mendatang.
Ibrahim menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh sejumlah faktor eksternal dan internal.
Dari luar negeri, ketidakpastian politik di Amerika Serikat terkait pemilihan Ketua Federal Reserve (The Fed) dan ketegangan antara AS dan Iran menjadi sentimen negatif.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti langkah Bank Indonesia (BI) dalam memperkuat pengelolaan cadangan devisa.
Menurutnya, langkah ini sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kepercayaan pasar global di tengah gejolak keuangan internasional.
BI terus memperkuat bauran kebijakan transformasi ekonomi melalui lima sinergi strategis, termasuk stabilitas makroekonomi, hilirisasi industri, dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Selain itu, BI terus mengimplementasikan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, termasuk pengembangan UMKM dan ekonomi syariah.
"Guna menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/1/2026).
Pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat kemarin, nilai tukar rupiah melemah 31 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 16.786 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.755 per dolar AS.











