Jakarta – Pemerintah Indonesia mewaspadai dampak konflik geopolitik terhadap perdagangan nasional. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyoroti potensi gangguan rantai pasok akibat meningkatnya tensi di kawasan Amerika-Israel dan Iran.
Budi Santoso menyebut penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian utama. Selat ini merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan 20-25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global.
Pemerintah melihat peluang bagi pelaku usaha untuk melakukan diversifikasi pasar. Negara-negara di Afrika dan Asia Tenggara menjadi target potensial untuk mengisi kekosongan pasokan.
"Tapi kita juga harus jeli, kita survei benar, apakah daerah itu memang banyak terganggu," ujar Budi di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Diversifikasi pasar ini diprioritaskan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM dinilai lebih fleksibel dalam beradaptasi dengan perubahan pasar dalam jangka pendek.
Mendag berencana bertemu dengan perwakilan eksportir, termasuk Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI). Pertemuan ini bertujuan menjaring masalah yang dihadapi eksportir dan menjajaki potensi diversifikasi pasar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyatakan dampak konflik di Iran terhadap perdagangan Indonesia masih dalam kajian.
Ateng memberikan gambaran bahwa terdapat tiga negara mitra dagang Indonesia yang berada di jalur Selat Hormuz, yaitu Iran, Oman, dan Uni Arab Emirat.
Berdasarkan data BPS, nilai impor nonmigas Indonesia dari Iran pada 2025 mencapai US$ 8,4 juta. Sedangkan ekspor nonmigas Indonesia ke Iran tercatat sebesar US$ 249,1 juta.
Dengan Oman, nilai impor nonmigas Indonesia mencapai US$ 718,8 juta dan ekspor nonmigas sebesar US$ 428,8 juta.
Sementara itu, nilai impor Indonesia dari Uni Arab Emirat mencapai US$ 1,4 miliar dan ekspor nonmigas sebesar US$ 4,0 miliar.











