Jakarta – Pasar keuangan Indonesia mengalami guncangan pada awal pekan ini. Rupiah tertekan hingga mencapai Rp 16.949 terhadap dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan signifikan dan ditutup pada level 7.337,3 pada Senin (9/3/2026).

Rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,14 persen, setelah sempat menyentuh Rp 17.000 per dolar AS pada sesi pembukaan. Koreksi IHSG lebih dalam, anjlok 3,27 persen setelah dibuka dengan penurunan 2,79 persen di posisi 7.374.

Menteri Keuangan Purbaya menyatakan kekhawatiran resesi yang disuarakan para ekonom menjadi penyebab utama pelemahan ini. "Rupiah 17 ribu, IHSG anjlok. Karena sebagian teman-teman ekonom bilang, katanya kita sudah resesi, menuju 1998 lagi. Daya beli hancur," kata Purbaya di Jakarta, Selasa (9/3/2026).

Purbaya meyakinkan investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Pemerintah akan terus berupaya menjaga akselerasi pertumbuhan ekonomi dalam beberapa pekan mendatang. "Jadi, investor di pasar saham, enggak usah takut. Fondasi kita jaga betul," tegasnya.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi memprediksi rupiah akan fluktuatif pada perdagangan Selasa. Ia memperkirakan mata uang Garuda berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 16.950-17.000 per dolar AS.

Ibrahim menyoroti konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia sebagai sentimen negatif yang membayangi pasar. Harga minyak telah melampaui US$ 100 per barel, mendekati level tertinggi saat awal perang Rusia-Ukraina.

Kondisi ini menimbulkan risiko terhadap fiskal negara, mengingat asumsi makro APBN 2026 hanya mematok harga minyak di kisaran US$ 70 per barel. "Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui US$ 100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen," pungkas Ibrahim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *