Payakumbuh – Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Randang Payakumbuh semakin mengukuhkan diri sebagai pusat ekonomi kreatif dan destinasi wisata gastronomi unggulan pada tahun 2025.
Kementerian Hukum dan HAM RI menetapkan Sentra IKM Randang sebagai Kawasan Berbasis kekayaan Intelektual (K-BKI) untuk kategori kawasan karya cipta. Pengakuan ini bertujuan memperkuat perlindungan dan meningkatkan nilai ekonomi randang.
Sepanjang tahun 2025, Sentra Randang menerima kunjungan dari berbagai kalangan, termasuk sekolah, perguruan tinggi, instansi pemerintah, hingga pelaku kuliner mancanegara.
Kunjungan ini mencerminkan meningkatnya minat publik terhadap proses produksi randang sebagai daya tarik wisata daerah. Sejak awal tahun, sentra Randang menjadi lokasi pembelajaran luar kelas bagi berbagai institusi pendidikan.
Kementerian hukum dan HAM juga secara berkala meninjau pengembangan kawasan berbasis kekayaan intelektual ini.Kunjungan akademik dari UNP dan Sekolah Lansia Bangkinang menunjukkan minat terhadap potensi wisata gastronomi yang ditawarkan.
Pelaku usaha juga melihat peluang ekonomi, dengan HIPERMI (Himpunan Pengusaha rendang Minangkabau) bersilaturahmi untuk memperkuat jejaring usaha.
Bahkan, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) turut menjajaki kemungkinan randang sebagai alternatif konsumsi jamaah haji.
Balai POM dan Dinas Lingkungan Hidup Payakumbuh secara rutin melakukan pengawasan untuk memastikan standar mutu, keamanan pangan, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Kepala Kanwil Kemenkum HAM Sumatera Barat, Alpius Sarumaha, menyerahkan piagam K-BKI kepada Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, pada Juni lalu.
Alpius menilai Payakumbuh konsisten memanfaatkan potensi lokal untuk memperkuat ekonomi masyarakat.
“Payakumbuh telah mengambil langkah strategis melalui sentra produksi unggulan. Kekayaan intelektual menjadi elemen penting dalam pengembangan ekonomi kreatif dan perlu dikelola secara optimal,” ujarnya.
Pada Agustus 2025, tujuh chef internasional dari Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan thailand mengikuti program “Yuk Marandang – gastronomy and Tourism 2025”.
Para chef mempelajari proses memasak randang tradisional dan mencoba mengolah bumbu dengan gaya kuliner negara masing-masing.
Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, mengatakan partisipasi chef internasional membuka peluang baru bagi sektor pariwisata dan industri kreatif.
“Kehadiran chef mancanegara memperluas jejaring promosi dan membuka peluang kolaborasi internasional,” kata Zulmaeta.
Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperluas pengembangan produk kuliner berbasis kekayaan intelektual.
“Pengakuan ini akan menjadi landasan bagi pengembangan produk-produk lokal lainnya yang memiliki nilai budaya dan ekonomi,” ujarnya.











