Solok – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mempercepat penerapan sistem pertanian modern berbasis teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan di daerah. Penanaman perdana benih padi dengan pola Pertanian Modern-advanced Agriculture System (PM-AAS) dilakukan di lahan Kelompok Tani Rawang Sari, Nagari salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sabtu (25/7/2026).

Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy menyatakan bahwa modernisasi pertanian menjadi solusi utama menghadapi keterbatasan lahan sawah sekaligus memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat. Ia menegaskan bahwa peningkatan produksi tidak bisa hanya mengandalkan perluasan lahan, melainkan harus didorong melalui inovasi dan teknologi agar produktivitas per hektare naik. “Ini kegiatan yang bagus sekali untuk mendukung program pemerintah,” ujarnya.

Vasko juga menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan kepada petani agar teknologi yang diperkenalkan tidak sekadar demonstrasi semata tetapi benar-benar diterapkan secara luas. “Kita ingin teknologi ini benar-benar diterapkan oleh petani sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan mereka ikut terangkat,” tambahnya.

Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar Afniwirman menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan program dari Kementerian Pertanian yang mengedepankan mekanisasi serta penanaman benih secara presisi menggunakan alat khusus. Berbeda dengan metode konvensional yang memakai bibit hasil persemaian, sistem ini menanam benih langsung sehingga proses tanam lebih cepat dan efisien serta mengurangi tenaga kerja.

Afniwirman menyebutkan kebutuhan benih pada PM-AAS memang lebih tinggi yakni 70-80 kilogram per hektare dibandingkan pola konvensional sekitar 25 kilogram per hektare. Pupuk juga disesuaikan untuk mendukung populasi tanaman rapat guna meningkatkan potensi hasil panen hingga 10-12 ton gabah per hektare. “Kalau luas lahan sawah semakin terbatas, maka yang harus kita lakukan adalah meningkatkan produktivitas dari setiap hektare lahan yang ada,” jelasnya.

Penanaman di Nagari Salayo menjadi penerapan perdana PM-AAS di Sumatera Barat setelah sebelumnya masih dalam tahap uji coba.Untuk mempercepat implementasi program tersebut pemerintah akan memaksimalkan peran penyuluh pertanian sebagai pendamping lapangan dengan target satu penyuluh membimbing sekitar 50 hektare lahan.

Dengan jumlah penyuluh lebih dari seribu orang di Sumbar, potensi pendampingan dapat menjangkau hingga 50 ribu hektare area pertanian. Pemerintah provinsi berharap keberhasilan model ini di Kabupaten Solok dapat direplikasi ke sentra produksi padi lain demi memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung swasembada nasional melalui mekanisasi dan pemanfaatan teknologi modern secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *