Bukittinggi – Sebanyak 20 mahasiswa Program Studi Hukum Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi resmi memulai Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Nagari Pasie Laweh menjadi sorotan karena sejak 2021 menyandang predikat Nagari Konstitusi yang diberikan langsung oleh mahkamah Konstitusi RI. Status ini hanya dimiliki oleh dua desa di Indonesia, menjadikan Pasie Laweh sebagai salah satu nagari istimewa di tanah air.

Wali Nagari Pasie Laweh, Zul Arifin, mengungkapkan bahwa nagarinya semula termasuk daerah tertinggal di Kabupaten Agam.Namun berkat sinergi seluruh elemen masyarakat, kondisi kini berubah signifikan. “Dahulu Pasie Laweh merupakan nagari tertinggal di Kabupaten Agam. Kini kami bangkit berkat sinergi seluruh elemen masyarakat,” ujarnya pada Jumat (24/7/2026).Salah satu keunikan yang membedakan Pasie Laweh adalah keberadaan Mahkamah Sengketa Adat yang menangani berbagai perkara seperti sengketa tanah dan konflik antar kaum secara efisien tanpa harus melalui pengadilan negeri yang memakan waktu dan biaya besar.

Selain itu,program Kampuang Rancak (KRAN) menjadi inovasi pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur jalan. Zul Arifin menegaskan keterlibatan warga dari setiap kaum membuat mereka merasa memiliki dan menjaga hasil pembangunan dengan baik.

Inovasi lain berupa rumah Pelayanan Administrasi Publik juga telah diterapkan dengan layanan administrasi tersedia hingga lima dari sepuluh jorong di nagari tersebut. “Masyarakat bisa mengurus administrasi kapan saja bahkan hari libur,” tambahnya.

Para mahasiswa hukum menyatakan antusias mengikuti KKN untuk belajar langsung tata kelola pemerintahan nagari yang sukses dan inovatif. Ketua prodi Hukum Aisyah Chairil menyebutkan bahwa Pasie Laweh menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk memahami sinergi antara hukum adat dan hukum negara.

dekan Fakultas Humaniora Dwila Maresti berharap kegiatan KKN dapat memperkuat kesadaran hukum sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori tetapi juga memahami realitas lapangan.

Zul Arifin pun berpesan kepada para peserta KKN agar mempelajari bagaimana pasukan mereka bangkit dari keterpurukan serta membawa ilmu tersebut untuk disebarkan ke mana pun mereka berada.

Melalui program ini,harapannya terjalin sinergi kuat antara perguruan tinggi dan pemerintah nagari dalam membangun daerah menuju visi Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *