Padang – Dunia seni musik dan sastra Indonesia kehilangan salah satu maestro terbaiknya, B. Andoeska, yang akrab disapa Mak Etek, pada 13 Oktober 2026.
Kepergian sosok guru besar bagi banyak penyanyi ini meninggalkan duka mendalam bagi murid-muridnya, salah satunya penyanyi Sastri Bakry.
Sastri mengenang Mak Etek sebagai sosok yang berjasa besar dalam membimbing karier bernyanyinya sejak usia remaja.
“Saya belajar mengenal apa itu rekaman bukan dari buku, tapi dari tangan Mak Etek,” ujar Sastri.
Beliau adalah sosok yang memperkenalkan Sastri ke Musica Studio di Jakarta, tempat di mana para penyanyi besar Indonesia ditempa.
Tak hanya soal teknis vokal, Mak Etek juga dikenal sebagai mentor yang menanamkan kepercayaan diri kepada anak-anak didiknya.
Salah satu kenangan yang paling membekas bagi Sastri adalah saat mereka merekam lagu “Guguak Manyambah”.
“Adinda, penjiwaan Adinda yang paling pas,” kenang Sastri menirukan ucapan sang maestro yang ia simpan sebagai pengakuan berharga dalam kariernya.
Meski sempat berencana menggelar konser khusus untuk menghormati karya-karya pilihan Mak Etek, rencana tersebut belum sempat terlaksana sebelum sang guru berpulang.
Sastri mengaku merasa terpukul karena tidak sempat memberikan penghormatan terakhir secara langsung saat Mak Etek masih ada.
Ia pun menyoroti kurangnya apresiasi terhadap sosok seperti Mak Etek dalam beberapa perhelatan seni dan literasi di masa lalu.
Kini, Sastri bertekad untuk mewujudkan konser penghormatan tersebut sebagai bentuk bakti kepada sang guru.
Ia mengajak seluruh seniman dan anak didik Mak Etek untuk bersatu menyiapkan panggung persembahan terakhir.
“Mari kita siapkan panggung penghormatan terakhir ini bersama,” ajak Sastri.
Rencana ini pun telah mendapat respon positif dari Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Ahmad Zakri, yang menyatakan dukungannya.










