Jakarta – Ekspor batu bara Indonesia mengalami penurunan tajam sepanjang 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan nilai ekspor hingga 19,70 persen.

Data BPS menunjukkan nilai ekspor batu bara merosot dari US$ 30,49 miliar menjadi US$ 24,48 miliar pada periode Januari-Desember 2025.

Penurunan juga terjadi pada volume ekspor batu bara. Volume ekspor turun dari 405,76 juta ton pada 2024 menjadi 390,3 juta ton pada 2025.

"Nilai ekspor batu bara ini turun 19,70 persen secara kumulatif dari Januari sampai dengan Desember 2025," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/2/2026).

Di sisi lain, komoditas ekspor unggulan lainnya justru menunjukkan tren positif. Ekspor besi dan baja mencatatkan kenaikan nilai sebesar 8,41 persen, menjadi US$ 27,97 miliar dari sebelumnya US$ 25,80 miliar.

Volume ekspor besi dan baja juga meningkat dari 20,92 juta ton menjadi 23,26 juta ton.

Kinerja positif juga ditunjukkan oleh ekspor CPO dan turunannya. Nilai ekspor CPO melonjak 21,83 persen menjadi US$ 24,42 miliar dari US$ 20,05 miliar.

Volume ekspor CPO juga naik 9,09 persen menjadi 23,61 juta ton.

Secara keseluruhan, ekspor nonmigas Indonesia dari sektor industri pengolahan meningkat 14,47 persen. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan ekspor minyak kelapa sawit.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mencatatkan pertumbuhan ekspor sebesar 21,01 persen, terutama didorong oleh peningkatan ekspor kopi. Sebaliknya, ekspor produk pertambangan dan lainnya turun 23 persen akibat penurunan penjualan batu bara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *