[Jakarta] – Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bahwa menjaga stabilitas rupiah menjadi prioritas utama BI saat ini.
"Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki dan juga kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar," kata Destry dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
Destry menambahkan, BI secara konsisten dan terukur selalu berada di pasar uang, baik di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar offshore NDF.
Menurut Destry, konflik Timur Tengah memberikan dampak dua arah. Kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian domestik, mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar.
Pada perdagangan Selasa (7/4/2026), rupiah ditutup pada Rp 17.105 per dolar AS. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi berpendapat perkembangan ini dipengaruhi investor yang bersiap menghadapi potensi eskalasi konflik di Timur Tengah, menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Ibrahim juga menyoroti sisi internal, di mana ekonom menilai desain subsidi berbasis komoditas membuka celah konsumsi oleh kelompok mampu. "Skema subsidi energi yang belum tepat sasaran menjadi sorotan di tengah lonjakan harga minyak global," ujarnya.
Ibrahim menjelaskan, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global menjadi pukulan telak bagi kondisi fiskal Indonesia di tengah ketergantungan tinggi pada impor BBM. Kenaikan harga yang jauh di atas asumsi APBN memperbesar beban subsidi energi, sementara ruang fiskal pemerintah dinilai semakin terbatas untuk meredam gejolak tersebut.











