Mentawai – Puluhan sapi bantuan dari program pokok pikiran (pokir) anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Mentawai mati mendadak. Kejadian ini menjadi sorotan dan menimbulkan kerugian besar bagi peternak.
Sapi-sapi tersebut disalurkan kepada kelompok peternak di Sipora Jaya, Tuapeijat, dan Pasapuat.
Wiki Sunandar, Ketua Kelompok Peternak Angon Babon Sipora Jaya, mengungkapkan, dari 11 ekor sapi Bali yang diterima pada Agustus 2025, kini hanya tersisa tiga ekor. “Awalnya sehat, tapi lama-lama ada yang sakit. Tidak mau makan, lemas, lalu mati mendadak,” ujarnya, Selasa (25/6/2024).
Penyakit tersebut menular ke ternak lokal warga. “Kurang lebih 14 ekor sapi lokal ikut mati. Total sudah 22 ekor yang hilang. Kerugiannya besar, satu ekor sapi saja harganya Rp15-16 juta,” kata Wiki.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Mentawai, Hatisama Hura, membenarkan adanya kasus kematian sapi bantuan pokir. Total 91 ekor sapi didistribusikan pada tahun 2025 ke empat desa dari tiga anggota DPRD.
“Dari data kita, sudah 13 ekor sapi pokir yang mati. Selain itu berdampak ke ternak masyarakat, ada 21 ekor sapi lokal yang mati di Sipora Jaya dan Pasapuat,” jelas Hatisama.
Hasil uji laboratorium Balai Veteriner Bukittinggi menunjukkan beberapa sapi terjangkit penyakit jembrana dan parasit darah.
“Dari sampel kita kirim, lalu diuji Balai Veteriner, ada indikasi 5 ekor jembrana, 3 ekor parasit darah. Bisa dipicu cuaca atau daya tahan tubuh sapi yang menurun,” ujar Hatisama.
DKPP mentawai mengakui tidak memiliki dokter hewan PNS. Pihaknya telah menyurati Balai Veteriner Bukittinggi dan Dinas Peternakan provinsi untuk bantuan vaksin dan obat-obatan.
Anggota DPRD mentawai dari Fraksi Perindo, James Sibarani, menegaskan pengadaan sapi pokir telah melalui prosedur resmi. Sapi-sapi tersebut berasal dari Pasaman dan sempat menjalani karantina dua minggu di Padang.
“Pokir ini melalui rekanan yang ditentukan dinas lewat tender. Semua prosedur karantina sudah dilalui. Kalau kemudian mati, itu di luar kemampuan kita. Saya rasa tidak ada lagi yang bisa disalahkan,” tegas James.
Anggaran untuk 11 ekor sapi Bali di Desa Sipora Jaya mencapai Rp170 juta. Ke depan, James berjanji akan lebih fokus pada program pertanian sesuai permintaan masyarakat.











