Arlington, TexasTimnas Spanyol akan menghadapi Prancis pada semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Dallas, Arlington, Amerika Serikat, untuk memperebutkan tiket ke partai final dan menentukan tim yang lebih siap menembus laga puncak.

Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, membawa timnya dengan keyakinan bahwa kemenangan besar menuntut pengorbanan, sementara Prancis datang dengan reputasi sebagai salah satu favorit juara berkat kedalaman skuad yang lebih merata di lini depan.

Di atas kertas, kedua tim dinilai memiliki peluang yang relatif seimbang untuk lolos ke final. Namun, jika dibandingkan dari kualitas individu, Prancis dianggap lebih unggul karena memiliki banyak penyerang yang mampu mengubah jalannya pertandingan.

Lini serang Les Bleus diperkuat Michael Olise, Kylian Mbappe, dan Ousmane Dembele, dengan opsi tambahan seperti Marcus Thuram, Desire Doue, dan Bradley Barcola dari bangku cadangan.

Sementara itu, La Furia Roja lebih bertumpu pada Lamine Yamal, pemain berusia 18 tahun yang memikul ekspektasi besar publik Spanyol. Dukungan permainan juga datang dari Fabian Ruiz, Dani Olmo, dan Pedri.

Dari sisi efektivitas serangan, komposisi Prancis dinilai lebih lengkap dibanding Spanyol. Nama Mikel Oyarzabal dan Mikel Merino disebut belum setara bila dibandingkan dengan deretan penyerang utama Les Bleus.

Pengamat sepak bola Gigih menilai laga semifinal ini berpotensi berlangsung dramatis karena mempertemukan empat tim besar yang sama-sama memiliki pemain kunci. Ia menyebut Mbappe, Lamine Yamal, Lionel Messi, dan Jude Bellingham sebagai sosok yang bisa menjadi pembeda.

De la Fuente juga merespons pernyataan pelatih Prancis, Didier Deschamps, yang memberi label favorit kepada Spanyol. Menurutnya, status favorit bukan faktor penentu dalam pertandingan seperti semifinal Piala Dunia.

“Itu tidak berarti apa-apa, baik Anda favorit atau tidak. Bagi saya, status sebagai favorit tidak berarti apa-apa, dan bukan faktor penentu,” kata de la Fuente, dikutip dari laman Marca.

Pelatih berusia 65 tahun itu menegaskan bahwa target menjuarai Piala Dunia tetap terbuka, meski tantangannya sangat berat. Ia menyebut keberhasilan di turnamen ini akan menjadi pencapaian yang sempurna bagi Spanyol.

Untuk menguatkan mental timnya, de la Fuente mengutip pernyataan Julius Caesar bahwa prestasi besar tidak lahir tanpa penderitaan. Ia menilai sebuah pencapaian penting hanya bisa diraih jika tim bersedia berkorban dan melewati kesulitan.

“Julius Caesar pernah berkata bahwa tidak ada prestasi besar tanpa penderitaan, dan saya percaya pada ungkapan itu. Jika Anda ingin mencapai sesuatu yang penting, Anda harus mengorbankan sesuatu di sepanjang jalan dan mengalami banyak penderitaan,” kata de la Fuente.

Ia menambahkan bahwa empat semifinalis, yakni Spanyol, Prancis, Inggris, dan Argentina, memiliki level kekuatan yang sangat berdekatan. Menurutnya, tidak ada tim yang benar-benar lebih baik dari yang lain dalam fase ini.

“Kita semua adalah tim-tim besar. Ada kesetaraan yang besar dalam level permainan, dan tidak ada tim yang lebih baik dari yang lain,” kata de la Fuente.

(Tribunnews.com/Giri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *