Bener Meriah – ‍WWF-Indonesia bersama ‌pemengaruh Jerhemy Owen menggerakkan publik⁣ untuk mendukung pemulihan wilayah ⁤terdampak di Aceh melalui penanaman bertahap ⁤250.000 bibit pohon di Daerah Aliran Sungai ⁣(DAS) ‌peusangan. Program‍ ini menjadi bagian dari Peusangan Elephant ‌Conservation Initiative (PECI) yang menghubungkan restorasi alam,pemulihan sumber ‌penghidupan warga,dan perlindungan‌ habitat Gajah Sumatra.

Langkah awal program itu ⁣dimulai dengan‍ penanaman perdana di sekitar Conservation Response unit (CRU) DAS⁢ Peusangan⁤ pada Sabtu​ (18/6/2026). Dalam kegiatan tersebut,​ sebanyak 2.000⁤ bibit​ pohon ditanam bersama masyarakat, relawan, komunitas, content creator, pemerintah daerah, dan berbagai mitra.

Selanjutnya, 250.000 bibit akan didistribusikan dan ditanam secara‍ bertahap di tujuh desa di Lanskap Peusangan,yakni Alur Cincin,Alur Gading,Blang Ara,Musara Pakat,Negeri Antara,Simpang⁣ Lancang,dan Salah Siron Jaya. Penanaman ini diarahkan untuk menunjukkan bahwa restorasi ⁤alam​ tidak berhenti pada aktivitas⁢ menanam pohon semata.Lanskap Peusangan ​selama ini menjadi ruang hidup bersama bagi warga dan Gajah ‍Sumatra di Kabupaten Aceh⁢ Tengah, ⁢bener Meriah, dan Bireuen.‍ Perubahan bentang alam, tekanan terhadap habitat, serta meningkatnya ‍perjumpaan manusia dan gajah membuat tantangan di kawasan itu semakin kompleks.Situasi tersebut diperburuk oleh bencana yang⁤ melanda ⁣Aceh, yang membuat sebagian warga kehilangan kebun⁣ dan sumber penghidupan. Karena ​itu, pemulihan ekonomi​ masyarakat dan perbaikan kondisi ekologis lanskap dinilai harus ⁢berjalan beriringan.

Melalui PECI, WWF-Indonesia bersama ⁤masyarakat dan para pihak mendorong perubahan dari interaksi negatif menuju koeksistensi manusia dan gajah berbasis lanskap.​ Pendekatan ini⁣ mencakup pengelolaan satwa liar, ‍pemulihan⁣ habitat, agroforestri, penguatan ⁤penghidupan warga, pengembangan pengetahuan, kolaborasi lintas ⁤pihak, ‍hingga pembiayaan konservasi berkelanjutan.

“Konservasi ‌satwa ‍liar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang berbagi ruang di lanskap yang sama. Karena itu, upaya menuju koeksistensi perlu menjawab kebutuhan keduanya: bagaimana habitat dapat⁤ dipulihkan⁣ dan⁣ interaksi negatif dengan gajah dapat dikelola, sekaligus ​masyarakat ⁤dapat memiliki penghidupan yang lebih ​kuat dan berkelanjutan,” ‍ujar dewi Lestari ⁢Yani Rizki, direktur Konservasi WWF-Indonesia.

Ia menambahkan,konservasi‍ tidak akan berhasil ‍bila hanya berfokus pada satwa atau hutan. Menurut dia, restorasi habitat harus berjalan seiring dengan pemulihan​ sumber kehidupan ‌warga.

“Kolaborasi ​bersama Wenanam menunjukkan ⁢bagaimana energi publik dapat diterjemahkan⁢ menjadi kerja konservasi yang berbasis sains dan memberikan dampak jangka panjang bagi manusia yang⁢ tinggal di sekitar habitat maupun di kota besar. Yang‌ paling penting adalah pelestarian Gajah Sumatra,” ⁣kata Dewi.

Program PECI ⁢kini menjadi wadah untuk ‌mengimplementasikan wenanam sebagai bentuk partisipasi publik dalam pemulihan Lanskap Peusangan. Dukungan publik yang dihimpun melalui Wenanam diwujudkan dalam bibit bernilai ekonomi seperti durian, jeruk, jambu, dan jenis lain, ‍serta ‍disesuaikan dengan kebutuhan tiap area, termasuk tanaman pionir dan rumput gajah.

Di wilayah kelola masyarakat, ⁤bibit-bibit itu akan mendukung ‌pengembangan agroforestri ⁤untuk memulihkan kebun dan memperkuat sumber penghidupan. Pendekatan ini tak hanya menekankan⁣ penghijauan, tetapi juga mengaitkan pemulihan ekonomi warga dengan pengelolaan lanskap‍ yang selaras dengan upaya koeksistensi manusia dan gajah.

Adapun di area sungai dengan kondisi tanah ‍berpasir, penanaman‍ tahap awal difokuskan pada pemulihan⁣ habitat. Tanaman pionir seperti legume, bambu, dan ⁣tanaman ‌pakan gajah ditanam⁢ untuk memperbaiki ⁣lahan dan ​unsur hara secara bertahap.

Penanaman ⁤di area itu juga menjadi bagian dari pengembangan biobarrier alami dan perbaikan habitat gajah. Pendekatan yang berbeda di setiap⁢ area menjadi ciri penting Wenanam 2026, dengan‍ menempatkan fungsi tanaman, ‍lokasi, dan kebutuhan‌ ekologis sebagai dasar utama.

“Wenanam ‌lahir dari keinginan ‌untuk⁢ mengajak lebih banyak orang ikut menanam harapan. Di Peusangan, ⁣saya⁢ belajar bahwa menanam bukan hanya soal berapa banyak pohonnya. Ada masyarakat yang kehilangan kebun dan perlu memulihkan penghidupannya, ​ada habitat yang perlu diperbaiki, dan ada ​hubungan‍ antara manusia dan gajah ‍yang perlu​ kita bangun kembali,” ujar Jerhemy Owen, inisiator ⁤Wenanam.

Ia berharap⁣ gerakan itu dapat berkembang lebih ‍besar. “Yang ⁤penting, Wenanam ini bukan hanya Jerhemy ‍Owen saja, tetapi justru followers dan ​masyarakat Indonesia yang menanam,” katanya.

Program PECI ‌sendiri dikembangkan melalui kolaborasi lintas pihak, mulai dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, PT Tusam ⁢hutan Lestari, Pemerintah ⁤Provinsi ‌Aceh, pemerintah daerah Kabupaten ​bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Tengah, Forum Kolaborasi PECI,‍ akademisi dari berbagai universitas, masyarakat lokal,‍ hingga Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Advancement Office (FCDO) dan HSBC Indonesia.

Berbagai mitra pembangunan juga ikut mendukung ‌upaya menuju‌ koeksistensi⁣ manusia dan gajah ​di kawasan itu.

Kolaborasi WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen dinilai saling melengkapi.Wenanam menggerakkan‍ partisipasi publik,sementara WWF-Indonesia memastikan dukungan itu masuk ke dalam program konservasi yang disusun ‍berdasarkan kebutuhan ekologis ⁢dan sosial di lapangan.

Dukungan⁤ juga datang dari arei Outdoor Gear, eastspring Investments Indonesia, Tencent, ⁢FCDO, dan HSBC Indonesia. Sementara itu, Kitabisa membantu ⁣mobilisasi partisipasi publik melalui platform penggalangan dana Jerhemy Owen ⁢dan WWF-Indonesia, sedangkan Mantappu Corp mendukung⁣ kolaborasi serta pelibatan content creator ‍untuk memperluas‍ jangkauan gerakan.

Melalui Wenanam,250.000 bibit pohon‌ itu ditanam sebagai⁢ simbol harapan bersama. Lewat PECI, harapan ‍tersebut dirawat agar tumbuh menjadi⁣ sumber penghidupan yang lebih kuat, habitat yang lebih baik, pengetahuan yang berkembang, dan jalan menuju koeksistensi manusia dan gajah di ⁤Peusangan.

Dalam upaya itu,‌ masyarakat tidak diposisikan hanya sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai aktor penting dalam memulihkan⁤ sumber kehidupan, mengelola lanskap, dan membangun cara hidup berdampingan dengan⁣ gajah yang lebih aman dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *