Jakarta – Surat Berharga Negara (SBN) ritel diprediksi tetap diminati investor hingga 2026, didorong ekspektasi penurunan suku bunga acuan. Head of Investment & Insurance Product Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, menyampaikan keyakinan ini.
Djoko menjelaskan, potensi pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) akan membuat SBN ritel semakin menarik karena imbal hasil yang lebih tinggi. "Pemotongan suku bunga akan memberikan nilai yang relatif lebih baik untuk surat ritel. Return-nya (imbal hasil) akan menjadi lebih tinggi," ujarnya usai peluncuran kampanye Pegasus (Pensiun Gak Susah) di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Lebih lanjut, Djoko menilai SBN ritel cocok untuk berbagai kondisi pasar karena memiliki jangka waktu pendek dan tingkat volatilitas yang rendah. "Jadi sebenarnya untuk momen apapun, cocok itu buat kita untuk investasi di sana," katanya.
Bahkan jika suku bunga tidak turun, Djoko meyakini minat terhadap SBN ritel akan tetap tinggi karena investor mencari instrumen investasi yang aman dengan risiko minimal. Meski demikian, Djoko menyarankan investor untuk melakukan diversifikasi investasi agar dapat menjaga risiko dan memberikan return yang optimal.
Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono mengungkapkan peningkatan minat investor terhadap SBN ritel, dengan jumlah investor mencapai 1.018.925 sejak awal penerbitan pada 2016 hingga akhir 2025.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sendiri menargetkan penerbitan 8 seri SBN ritel pada tahun 2026, yaitu ORI029, SR024, ST016, ORI030, SR025, SWR007, SBR015, dan ST017.










