Jakarta – Rupiah terus melemah mendekati level Rp 17.000 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan sejumlah faktor yang memicu pelemahan mata uang Garuda.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyebut persepsi pasar terhadap proses pencalonan Deputi Gubernur BI menjadi salah satu pemicu.

"Persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan Deputi Gubernur turut mempengaruhi," kata Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Sorotan tertuju pada masuknya nama Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo Subianto, sebagai kandidat Deputi Gubernur BI. Thomas saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.

Selain Thomas, terdapat dua kandidat lain, yaitu Dicky Kartikayono (Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI) dan Solikin M. Juhro (Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI).

Perry menegaskan, proses pencalonan telah sesuai undang-undang dan tidak akan mempengaruhi profesionalitas BI.

Faktor domestik lain yang memperparah pelemahan rupiah adalah capital outflow. BI mencatat, hingga 19 Januari 2026, aliran modal asing keluar mencapai US$ 1,6 miliar.

Kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi, termasuk Pertamina, PLN, dan Danantara, juga memicu capital outflow.

Perry juga menyoroti faktor global, seperti kondisi geopolitik, kebijakan tarif AS, serta tingginya yield US Treasury.

"Kondisi-kondisi lain menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika," imbuhnya.

Pada perdagangan Rabu (21/1/2026), rupiah ditutup di level Rp 16.936 per dolar AS.

Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai pencalonan Thomas Djiwandono akan berdampak pada tekanan terhadap rupiah. Ia memprediksi rupiah akan segera menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS.

Riefky khawatir kondisi ini menjadi preseden buruk, mengingat Indonesia saat ini tidak sedang dalam kondisi krisis, namun indikator ekonomi justru memburuk.

"Jangan-jangan memang proses pembuatan kebijakan ini yang membuat investor tidak memandang kita sebagai perekonomian yang sehat," pungkas Riefky.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *