Jakarta – Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis untuk mengamankan pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Antisipasi ini dilakukan untuk mencegah potensi gangguan pasokan energi di masa depan.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah telah "mengunci" sumber alternatif pasokan energi dari luar Timur Tengah. Hal ini diungkapkan saat Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor di Jakarta, Kamis (5/3/2026). "Dari segi alternatif itu dalam tanda petik sudah lock in. Ini yang kami juga harus antisipasi ke depan," ujar Airlangga.

Amerika Serikat dan Venezuela menjadi fokus utama sebagai sumber alternatif pasokan energi bagi Indonesia. Kerja sama dengan Amerika Serikat terjalin melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART). Sementara itu, pasokan dari Venezuela akan berasal dari aset yang dimiliki Pertamina di negara tersebut.

Dalam dokumen ART, terdapat kesepakatan impor gas dan minyak mentah senilai total US$ 15 miliar per tahun. Rinciannya meliputi impor LPG senilai US$ 3,5 miliar, minyak mentah senilai US$ 4,5 miliar, dan bensin hasil olahan senilai US$ 7 miliar.

Pertamina memiliki saham mayoritas sebesar 71,09 persen pada Maurel & Prom (M&P), yang memiliki aset minyak dan gas di Venezuela.

Airlangga menambahkan, kondisi geopolitik global saat ini sulit diprediksi dan berpotensi meningkatkan harga minyak akibat gangguan investasi dan rantai pasok.

Meskipun demikian, pemerintah belum akan memutuskan kenaikan harga BBM subsidi saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *