Jakarta – Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kejahatan digital yang semakin terorganisir dan terindustrialisasi. Penipu kini memanfaatkan teknologi canggih seperti deepfake AI, fake Base Transceiver Station (BTS), hingga malware untuk membobol sistem keamanan perangkat.

Penyedia solusi identitas digital dan pencegahan penipuan, Vida, mengungkapkan bahwa modus penipuan terus berevolusi.

"Penipuan selalu beradaptasi," ujar Pendiri dan Group CEO Vida, Niki Santo Luhur, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (7/3/2026).

Niki menjelaskan, pelaku kejahatan terus menguji sistem pertahanan, menyesuaikan teknik, dan kembali dengan metode yang lebih kompleks. Mereka memanfaatkan celah keamanan, kelemahan literasi digital masyarakat, serta momentum tertentu.

Data internal Vida mencatat lonjakan kasus penipuan tertinggi terjadi menjelang dan saat pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) sepanjang tahun 2025.

Momentum ini ditandai dengan meningkatnya aktivitas transaksi dan mobilitas masyarakat, yang membuka lebih banyak celah bagi pelaku kejahatan.

Niki memaparkan identitas digital terdiri dari tiga lapisan utama: what you know (apa yang diketahui), what you have (apa yang dimiliki), dan who you are (apa yang menjadi keunikan diri).

What you know merujuk pada informasi seperti password, nama ibu kandung, atau pertanyaan keamanan. What you have mengacu pada perangkat seperti telepon genggam atau token.

Sementara who you are berkaitan dengan karakteristik biometrik seperti wajah, suara, dan sidik jari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *