Jakarta – Pemerintah memastikan masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir akan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam waktu dekat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan keputusan ini berlaku meski harga minyak mentah dunia melonjak hingga US$ 115 per barel.
"Sampai dengan hari raya ini insyaallah tidak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi," ujar Bahlil di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (9/3/2026). Pemerintah saat ini tengah melakukan kajian mendalam untuk menentukan kebijakan terkait harga BBM ke depannya.
Kajian ini dilakukan menyusul kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik antara Iran dan Israel. Konflik tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Meski demikian, Bahlil meyakinkan bahwa pasokan energi di dalam negeri tetap aman.
Pemerintah tidak menghadapi masalah terkait ketersediaan stok minyak. "Problemnya kita sekarang bukan di stok. Stok tidak ada masalah, sudah tersedia semuanya. Kita sekarang tinggal menghadapi soal harga," jelasnya.
Lonjakan harga minyak mentah dunia dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel di Timur Tengah. Data dari Trading Economics menunjukkan, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga US$115 per barel pada Senin siang (9/3/2026).
Kenaikan ini menjadi yang terbesar dalam satu hari sejak April 2020, dan membawa harga minyak ke level tertinggi sejak Juni 2022. Gangguan pasokan dari produsen utama di Timur Tengah, terutama setelah jalur pengiriman energi di Selat Hormuz terganggu, menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak.
Produksi minyak di Irak juga dilaporkan merosot tajam, turun sekitar 70 persen menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Kuwait juga mulai memangkas produksi dan menyatakan kondisi force majeure. Langkah serupa juga terjadi pada sektor energi di Qatar.
Analis memperkirakan potensi penurunan produksi dari Uni Emirat Arab dan Arab Saudi akibat kapasitas fasilitas penyimpanan yang mulai penuh.











