Jakarta – Indonesia sedang mempertimbangkan pembelian hingga 40 unit jet tempur JF-17 Thunder buatan Pakistan untuk memperkuat armada udaranya. Pembicaraan juga mencakup potensi pengadaan drone Shahpar untuk keperluan pengawasan dan penyerangan target.
Informasi ini diperoleh dari sumber yang mengetahui detail perundingan.
JF-17 Thunder adalah jet tempur ringan, bermesin tunggal, hasil produksi Pakistan Aeronautical Complex (PAC). Pesawat ini merupakan varian dari FC-1 Xiaolong, yang diproduksi oleh Chengdu Aircraft Industries Corporation (CAC) dari China. CAC merancang pesawat ini sebagai low cost fighter dengan desain airframe semi monocoque yang sederhana dan biaya produksi terjangkau.
Meskipun demikian, JF-17 Thunder diklaim memiliki kemampuan tempur maksimal dengan persenjataan canggih. Untuk memperluas jangkauan, China dan Pakistan melengkapi JF-17 Thunder dengan air refueling probe untuk pengisian bahan bakar di udara. Prototipe perdana JF-17 Thunder (PT-01) terbang perdana pada Agustus 2003.
Setelah modifikasi, JF-17 Thunder menarik perhatian publik saat dipamerkan di Farnborough Airshow 2010, Inggris. Sejak itu, China dan Pakistan menawarkan pesawat tempur ini kepada negara-negara yang berminat. Pengamat aviasi menilai kemampuan JF-17 Thunder lebih baik dari F-5 E/F Tiger II.
Pengembangan JF-17 Thunder didominasi China, namun jet tempur ini juga memiliki komponen Rusia. Mesin JF-17 Thunder menggunakan turbofan Klimov RD-93 yang andal di berbagai kondisi, termasuk lingkungan berdebu. Namun, mesin ini dikenal boros bahan bakar dan memiliki time between overhaul (TBO) relatif pendek, yaitu 500-600 jam, dengan service life 1.800 jam.
Sistem persenjataan JF-17 Thunder menggunakan interkoneksi standar NATO Mil-STD 1760 databus. Pada 2018, Presiden Joko Widodo pernah menaiki kokpit JF-17 Thunder di Pangkalan Udara Nur Khan, Islamabad, saat berkunjung ke Pakistan.











