Jakarta – Pemerintah Iran dilaporkan menggunakan teknologi militer Rusia untuk memblokir layanan internet Starlink milik Elon Musk. Tindakan ini dilakukan di tengah meningkatnya kerusuhan di negara tersebut sejak akhir Desember 2025.
Teknologi militer Rusia diduga menjadi alat utama yang digunakan Iran untuk memblokir Starlink. Perangkat pengacau sinyal khusus dilaporkan berhasil mengganggu hingga 80 persen lalu lintas data unggah dan unduh Starlink di Iran.
Gangguan ini secara khusus menargetkan sinyal GPS, yang sangat penting bagi terminal Starlink untuk terhubung dengan satelit.
Kelompok pemantau internet, NetBlocks, mengonfirmasi adanya gangguan ini. Mereka menyebut layanan Starlink di Iran "tidak stabil, tetapi masih ada."
Beberapa unggahan di media sosial menunjukkan sistem peperangan elektronik (EW) Rusia, Murmanks-BN, digunakan oleh Iran. Sistem ini mampu mengganggu komunikasi musuh pada rentang frekuensi HF (3-30 MHz).
Murmanks-BN berbasis truk militer Kamaz 8×8 dengan antena hingga 32 meter. Sistem ini digunakan untuk melumpuhkan sinyal satelit, radio, GPS, serta alutsista musuh seperti pesawat dan kapal perang.
Sistem ini mampu mengganggu sinyal secara efektif dalam jangkauan 5.000-8.000 km, menutup area 640.000 km persegi. Murmanks-BN bahkan diklaim mampu mengganggu komunikasi NATO/AS dari jarak jauh.
Sistem ini disebut-sebut sebagai jammer terkuat Rusia saat ini dan telah diekspor ke negara sekutu seperti Iran. Forbes melaporkan bahwa pendekatan "kill switch" yang dilakukan Iran menelan biaya US$1,56 juta atau sekitar Rp24 miliar per jam.
Jumlah satelit Starlink milik Elon Musk telah menembus angka 10.000 pada Oktober 2025. Hal ini menjadikan Starlink sebagai konstelasi satelit terbesar di dunia yang mengorbit Bumi untuk menyediakan internet berkecepatan tinggi.











