Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Upaya komprehensif ini mencakup penanganan darurat hingga rehabilitasi infrastruktur.
Hingga 7 Januari 2026, Kementerian PU mencatat 1.459 titik terdampak di tiga provinsi: 523 titik di Aceh, 306 titik di Sumatera Utara, dan 630 titik di Sumatera Barat.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan fokus utama adalah mempercepat pemulihan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat serta memastikan akses kebutuhan dasar.
Bencana ini menyebabkan banjir, tanah longsor, tanggul jebol, kerusakan jalan dan jembatan, serta gangguan layanan air bersih.
Kementerian PU mengerahkan 1.712 unit alat berat dan 1.328 personel untuk mendukung tanggap darurat, dibantu TNI dan masyarakat setempat.
Sebanyak 470 unit sarana dan prasarana pendukung serta 6.232 unit bahan dan material disalurkan untuk mempercepat pembersihan lokasi, normalisasi sungai, dan perbaikan infrastruktur.
Di sektor Bina Marga, konektivitas antarwilayah melalui jalan nasional telah tersambung. Perbaikan terus dilakukan melalui rekayasa lalu lintas dan penanganan permanen.
Tercatat 1.961 ruas jalan terdampak, dengan 1.410 ruas sudah fungsional dan 551 ruas masih dalam perbaikan.
Dari 743 jembatan daerah terdampak, 120 unit telah fungsional dan 623 unit masih memerlukan perbaikan. Kebutuhan darurat mencakup sekitar 270 Jembatan Bailey dan 205 jembatan Armco.
Di sektor Sumber Daya Air, 21 dari 36 daerah irigasi (DI) nasional seluas 254.946 hektare terdampak, dengan luas layanan sekitar 127.688 hektare. Sebanyak 24 bendung juga terdampak, dengan 13 bendung dalam penanganan.
Upaya pembersihan tanggul bendung, normalisasi aliran, dan optimalisasi lahan irigasi terus dilakukan. Penanganan sawah yang mengalami sedimentasi juga menjadi perhatian.
Kementerian PU juga mendukung pemenuhan air bersih melalui pembangunan sumur bor dengan kedalaman lebih dari 100 meter. Saat ini, suplai air baku dilakukan di 24 lokasi di Kabupaten Aceh Tamiang.
Delapan dari 10 alat bor telah digunakan untuk pengeboran. Satu unit sudah terpasang lengkap dengan pompa, rumah pompa, dan hidran umum dengan debit air 2 liter per detik.
Di sektor Cipta Karya, penanganan difokuskan pada pemulihan layanan dasar permukiman, seperti sistem penyediaan air minum, drainase lingkungan, sanitasi, serta dukungan hunian sementara.
Sebanyak 470 sarana dan prasarana telah disalurkan di tiga provinsi terdampak, dengan 451 unit telah terpasang dan 19 unit masih dalam proses mobilisasi.
Di sektor Prasarana Strategis, Kementerian PU membangun satu lokasi hunian sementara (huntara) di Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 84 unit dengan progres 80,14 persen.
Huntara tersebut dibangun menggunakan struktur modular baja sistem MOLI tanpa alat berat, serta dilengkapi sumber air dari sumur bor dan pasokan listrik dari PLN serta genset.
Selain Aceh Tamiang, survei lokasi huntara dilakukan di empat kabupaten lain, yakni Bener Meriah (480 unit), Pidie Jaya (211 unit), Aceh Utara (400 unit), dan Tapanuli Selatan (431 unit). Total huntara yang direncanakan dibangun mencapai 1.606 unit.
Kementerian PU terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait untuk melanjutkan penanganan bencana hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Koordinasi ini dibarengi dengan memperkuat mitigasi guna meningkatkan ketahanan wilayah terhadap bencana hidrometeorologi di masa mendatang.











