Batusangkar – Pemerintah Kabupaten Tanah Datar mulai memetakan titik posko penanganan bencana di enam kecamatan terdampak banjir dan longsor, menyusul penetapan masa tanggap darurat selama 14 hari pada 13-26 Mei 2026.
Bupati tanah Datar Eka putra bersama Forkopimda menggelar rapat koordinasi di Indojolito Batusangkar, Kamis (14/5/2026), untuk memastikan penanganan darurat berjalan cepat dan terarah.
Bencana yang melanda Tanah datar dipicu hujan dengan intensitas tinggi pada 12 Mei 2026 pukul 14.00 WIB hingga 13 Mei 2026 pukul 04.00 WIB di Kecamatan Padang Ganting, Tanjung Emas, Lintau Buo, Lintau Buo Utara, Sungai Tarab, dan Salimpaung.
Eka Putra mengatakan masa tanggap darurat ditetapkan agar pemerintah bisa bekerja maksimal dalam menangani kondisi di lapangan.
“Di masa tanggap darurat ini, Pemerintah Daerah bersama instansi terkait lainnya secara bersama melakukan penanganan bencana dengan cepat, seperti penyiapan tempat mengungsi, lokasi dapur umum dan logistik, sampai dengan penanganan distribusi bantuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan,posko utama penanganan bencana berada di kantor BPBD Tanah Datar. Sementara itu, posko tingkat kecamatan ditempatkan di kantor camat masing-masing.
Khusus di Lintau Buo, pemerintah juga menyiapkan posko tambahan di timbangan Nagari Taluak.
“Di sana akan ada dapur umum, logistik dan juga tempat menerima bantuan dari dermawan,” kata Eka Putra.
Selain mengatur posko, bupati juga meminta OPD terkait, termasuk BPBD dan Dinas PUPR, segera mendata potensi bencana susulan dan melaporkannya.
Ia menyoroti kondisi hulu sungai yang bersumber dari gunung Sago karena disebut masih menyimpan sedimen dan lumpur yang berpotensi terbawa arus saat hujan deras kembali mengguyur wilayah itu.
Ketua DPRD Tanah Datar Anton Yondra bersama Dandim 0307/TD Letkol Inf. Agus Priyo Pujo Sumedi menyatakan dukungan terhadap penetapan status tanggap darurat selama 14 hari.
Anton menilai kebijakan itu akan membuat penanganan bencana, termasuk dari sisi pendanaan dan fokus kerja, bisa dilakukan lebih optimal.
“Melihat dan belajar dari bencana sebelumnya,kami sepakat melaksanakan masa tanggap darurat 14 hari ke depan,karena dengan penetapan itu,semua hal,termasuk dari pendanaan sampai dengan konsentrasi penanganan bencana lebih maksimal,” ujar Anton.
Rapat yang dipandu Sekda abdurrahman Hadi dan dihadiri OPD di lingkungan Pemkab Tanah Datar itu kemudian dilanjutkan dengan peninjauan ke sejumlah lokasi terdampak.
Data sementara menunjukkan Lintau Buo menjadi wilayah paling parah terdampak. Di kecamatan itu, 78 rumah, dua warung, dan satu sepeda motor hanyut. Sebanyak 12 kepala keluarga atau 51 jiwa mengungsi, sementara 91 kepala keluarga terisolir.
Di Lintau Buo Utara, sebanyak 33 rumah terdampak dan empat kepala keluarga atau 15 orang mengungsi.
Di Padang Ganting, enam rumah terdampak, disertai longsor pada badan jalan di Nagari Rajo Dani dan Koto Gadang Hilir, serta meluapnya aliran Batang Sungai Pagie.
Sementara di Tanjung Emas, banjir merendam 54 rumah dan dua kedai, serta memaksa 10 orang dievakuasi.
Di Sungai Tarab,longsor menyebabkan badan jalan terban di Nagari pasie Laweh. Adapun di Salimpaung, longsor dan pohon tumbang menutup badan jalan.
Eka Putra mengimbau warga tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang memicu bencana hidrometeorologi dalam beberapa hari terakhir.










