Jakarta – Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyuarakan pentingnya kedaulatan ekonomi nasional di tengah dinamika pengelolaan sumber daya alam dan pasar modal Indonesia.

Lutfi menegaskan bahwa langkahnya mengkritisi isu-isu strategis ini dilakukan murni demi membela kepentingan negara, bukan untuk memberi dukungan kepada pemerintah.

“Saya bicara di sini bukan untuk membela pemerintah, tapi untuk membela negara saya sendiri,” tegas Lutfi melalui unggahan di akun TikTok pribadinya, Senin (19/10/2026).

Salah satu poin utama yang ia soroti adalah pengelolaan kekayaan alam yang dinilai harus berorientasi pada kesejahteraan rakyat sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.

Lutfi secara khusus menyoroti divestasi saham Bayan Resources dan memberikan apresiasi kepada Haji Isam serta Bank Mandiri atas pengambilalihan 30,25 persen saham yang dinilai mengembalikan kendali strategis ke tangan nasional.

Dalam kesempatan itu, ia juga mempertanyakan efektivitas kekayaan alam dalam menyejahterakan masyarakat, sembari menyinggung fenomena sumbangan pendidikan sebesar Rp1,7 triliun ke Singapura.

“Ada perbedaan besar antara mencari makan di Indonesia dengan menjadi bagian dari bangsa Indonesia,” ujarnya.

Di sisi lain, Lutfi mengungkapkan adanya dugaan tekanan asing terhadap klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Ia menduga ada upaya dari pihak tertentu, termasuk spekulasi keterlibatan institusi investasi asal Singapura, untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Menurut analisis Lutfi, tekanan tersebut diduga bertujuan memicu kepanikan agar harga saham jatuh, sehingga investor asing dapat kembali membeli aset Indonesia dengan harga murah.

Ia mengklaim bahwa dana institusi asing telah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia, namun bursa domestik tetap stabil, yang menurutnya membuat investor asing sulit untuk melakukan aksi beli kembali di harga rendah.

Meski demikian, Lutfi tetap menekankan bahwa Indonesia harus tetap terbuka terhadap investasi asing tanpa mengorbankan kepentingan nasional.

Ia mengajak seluruh pihak untuk bersikap patriotik dalam menjaga aset strategis bangsa agar tidak mudah ditekan oleh kepentingan pihak luar.

“Jangan mau kita diadu-adu, dibuat minder oleh negara tetangga. Ini soal siapa memegang kendali atas kekayaan Indonesia,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *