Padang – Pemerintah berencana menghidupkan kembali 1.265 koperasi di Sumatera Barat (Sumbar) melalui program Koperasi Merah Putih (KMP) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini bertujuan memperkuat ekonomi kerakyatan dan memutus rantai ketergantungan masyarakat pada pinjaman online serta tengkulak.
Ketua Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Sumbar, Gun Sugianto, menjelaskan bahwa koperasi-koperasi ini akan lahir dari revitalisasi koperasi lama dan pembentukan koperasi baru melalui program KMP. Pemerintah menyiapkan modal hingga Rp 3 miliar per koperasi.
“bayangkan, jika seribu koperasi ini hidup, akan ada miliaran rupiah uang beredar di pelosok nagari-nagari di Sumbar,” kata Gun Sugianto.
Program KMP merupakan bagian dari visi nasional Asta Cita yang bertujuan menggerakkan ekonomi dari bawah. Pemerintah menargetkan pembentukan 80.081 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia pada pertengahan 2025.
Gun Sugianto menambahkan, koperasi bukanlah hal baru bagi masyarakat Minang, mengingat mohammad Hatta, Bapak Koperasi Indonesia, berasal dari daerah tersebut. Bung Hatta meyakini koperasi sebagai perwujudan sila kelima Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Data Dinas Koperasi dan UKM tahun 2024 menunjukkan, dari 4.220 koperasi di Sumbar, hanya 56 persen yang masih aktif. Banyak koperasi vakum karena berbagai alasan, seperti manajemen lemah, tidak punya pasar, atau hanya dijadikan alat proposal bantuan.
Gun Sugianto menekankan pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas dalam mengelola koperasi. Pengurus dan pendamping koperasi harus memiliki jiwa organisasi, jiwa sosial, dan jiwa entrepreneur.
“Pada akhirnya, koperasi tanpa tiga jiwa tersebut bagaikan kapal tanpa nakhoda,” tegasnya.
Sebagai bagian dari Muhammadiyah, Gun Sugianto percaya bahwa kebangkitan koperasi harus disertai kebangkitan moral dan etika ekonomi.Ia mencontohkan Induk Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM), jaringan koperasi syariah yang tersebar di seluruh Indonesia, sebagai wadah pembelajaran ekonomi berbasis syariah dan solidaritas.
“Kita tidak sedang mulai dari nol.Kita hanya sedang menyalakan kembali api yang sempat padam.Api yang dulu dinyalakan Bung Hatta, kini diteruskan Presiden Prabowo lewat Asta Cita,” pungkasnya.











