Padang – Pemadaman listrik besar-besaran di New York pada 14 Agustus 2003 pernah menggemparkan dunia setelah jutaan warga terdampak selama dua hari. Situasi yang oleh warga setempat disebut “doomsday” itu memperlihatkan betapa krisis listrik bisa berubah menjadi persoalan publik berskala luas, bukan sekadar gangguan teknis.
pemerintah kota dan perusahaan listrik di sana memilih menyebut peristiwa itu sebagai blackout. Di Minangkabau, kondisi seperti itu kerap diibaratkan sebagai kalam bakalajik.
Consolidated Edison Co, pemasok listrik utama untuk New York sekaligus anak perusahaan Consolidated Edison Inc, bergerak cepat memulihkan pasokan.Tidak ada demonstrasi besar maupun class action yang menyertai pemadaman tersebut.
Dua hari kemudian, listrik kembali menyala. Wali Kota New York Michael Bloomberg kemudian tampil dan menyampaikan permintaan maaf kepada warga.Kejadian itu menjadi pelajaran penting bahwa urusan listrik tidak berhenti pada kerja teknis perusahaan.Di Indonesia, sikap serupa nyaris tak terdengar.
Respons yang sering muncul dari kepala daerah di Tanah Air kurang lebih, “Urusan listrik padam, pembangkit down, gardu induk meledak, atau elevasi air waduk turun itu urusan PLN.” Padahal, listrik selalu disebut sebagai bagian dari infrastruktur pembangunan. Artinya, persoalan kelistrikan semestinya dipandang sebagai urusan bersama, bukan beban satu institusi semata.
Sebagai korporasi besar dan vital, PLN juga dituntut terus berbenah. Tekanan publik, gangguan teknis, hingga persoalan finansial merupakan tantangan yang lazim dihadapi perusahaan listrik di berbagai negara.
Jika Wali Kota New York bisa meminta maaf kepada warganya tanpa memiliki hubungan bisnis dengan Consolidated Edison co, perusahaan itu menunjukkan pentingnya komunikasi dengan publik dan mitra. Di titik itulah peran humas menjadi krusial.
Manajemen Edison disebut sangat dekat dengan pemerintah kota. Saat para insinyur bekerja memperbaiki gangguan,tim hubungan masyarakat ikut turun ke lapangan,termasuk melibatkan wali kota. Cara itu membuat publik memahami bahwa pemadaman bukan hanya urusan perusahaan, melainkan persoalan seluruh kota. Situasi pun tidak berkembang menjadi kemarahan massal terhadap perusahaan listrik tersebut.
Persoalan yang dihadapi PLN pada dasarnya tak jauh berbeda dari perusahaan listrik lain di dunia. Gangguan teknis, keterbatasan dana, dan ketidaksabaran pelanggan bisa terjadi di mana saja.
ukuran utamanya kini adalah seberapa tangguh perusahaan listrik menghadapi keadaan semacam itu tanpa terseret kritik tajam dari publik. Sebab, listrik tidak lagi dilihat sekadar sebagai infrastruktur.Masyarakat hanya ingin lampu rumah menyala, televisi bisa ditonton, dan internet tetap bisa diakses.Dalam kondisi padam, pelanggan tidak terlalu peduli pada istilah teknis seperti fuse gardu induk yang jatuh, beban puncak pembangkit air yang melampaui kapasitas, atau turbin PLTU yang rusak.
Bagi pelanggan, yang terpenting ialah pasokan listrik yang andal, berkelanjutan, dan terjamin. Begitu layanan terganggu, meski sebentar, keluhan biasanya langsung tertuju ke PLN.
Pengalaman sebelumnya menunjukkan, sebagian pejabat PLN kerap kurang nyaman menghadapi kritik. Penjelasan yang terlalu teknis justru sering membuat masyarakat semakin kesal karena tidak menjawab kebutuhan paling dasar: kapan listrik kembali normal.
Hal serupa terjadi saat blackout di Sumatra pada Jumat lalu. Publik meminta penjelasan yang jelas dan sederhana. Namun, yang muncul justru uraian teknis soal pembangkitan yang bagi banyak orang terasa tidak relevan. Masyarakat sebenarnya hanya ingin kepastian kapan aliran listrik pulih. Karena itu, diperlukan juru bicara yang kuat dan jalur komunikasi yang terbuka.Belakangan, suasana kantor PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Barat di kawasan Sawahan, Padang, disebut mirip markas militer karena pengamanan sangat ketat. Di antara kantor BUMN di kota itu,PLN UID menjadi salah satu yang paling dibatasi akses masuknya.
Dulu, saat masih menjadi pengurus Korps wartawan PLN pada era 1990-an, ruang humas PLN dikenal sebagai tempat dialog antara pejabat PLN dan wartawan. Tamu saat itu bisa datang tanpa harus melewati pemeriksaan seketat sekarang. Perubahan itu tidak dijelaskan, tetapi sulit membayangkan ada instalasi vital di kantor tersebut karena yang tersedia hanya genset cadangan.











