Jakarta – Rupiah menunjukkan tren penguatan di awal pekan ini. Pada penutupan perdagangan Senin (26/1/2026), mata uang Garuda menguat 38 poin, mencapai Rp 16.782 per dolar AS.

Penguatan ini menjadi angin segar setelah sebelumnya rupiah melemah dan berada di level Rp 16.820 per dolar AS pada penutupan perdagangan pekan lalu.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan beberapa faktor yang mendukung penguatan rupiah. Salah satunya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan sekutu NATO terkait isu Greenland.

Kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Pasar menantikan keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunganya. Investor juga mencermati sinyal dari The Fed terkait potensi penurunan suku bunga di akhir tahun.

Dari dalam negeri, dukungan pasar terhadap komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah menjadi sentimen positif. BI sendiri optimistis rupiah akan tetap stabil dan cenderung menguat.

Pasar juga merespons positif uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia di Komisi XI DPR.

DPR dijadwalkan akan melakukan pemungutan suara setelah proses fit and proper test selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *