Payakumbuh – Pemerintah Kota Payakumbuh mengajukan sejumlah isu strategis daerah kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam rapat koordinasi yang berlangsung pada Rabu, 25 Februari 2026, untuk menyelaraskan program pembangunan daerah tahun 2026-2027.
Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, mengungkapkan tantangan utama yang dihadapi daerahnya, mulai dari penanganan banjir akibat luapan Sungai Batang Agam, Batang Lampasi, dan Batang Pulau, yang menurut data per 25 Desember 2025 memerlukan penanganan pascabencana secara komprehensif, hingga pengelolaan sampah.
Zulmaeta menyoroti masalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional yang menimbulkan keluhan masyarakat akibat tumpukan sampah dan pengelolaan air lindi yang belum optimal, serta berharap dukungan provinsi untuk pemakaian kembali TPA regional pada 2026 dan perbaikan akses jalan menuju TPST selama masa konstruksi.
Di sektor infrastruktur, Pemerintah Kota Payakumbuh mengusulkan pemeliharaan jalan provinsi yang rusak akibat cuaca ekstrem dan kendaraan over dimension over load (ODOL), serta mendorong pelebaran Jalan Lingkar Selatan untuk memperkuat kawasan pergudangan dan distribusi barang.
Zulmaeta juga menyinggung kapasitas produksi air minum Perumda Tirta Sago yang belum mampu mengimbangi pertumbuhan perumahan, serta mengungkapkan peluang kerja sama dengan perusahaan The Sak Bali yang siap menyerap produk dari 1.000 pengrajin rajut dan anyaman.
Menanggapi usulan tersebut, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menegaskan bahwa "2026 harus menjadi titik balik kebangkitan ekonomi Sumbar," dan memaparkan empat strategi utama, di antaranya hilirisasi agroindustri, transformasi pariwisata dan ekonomi hijau, akselerasi digitalisasi UMKM, dan mitigasi bencana sebagai investasi ekonomi.










