Jakarta – Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia menyoroti penurunan outlook utang Indonesia oleh Fitch Ratings dan mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan. Penurunan ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri.
Ketua Umum HKI, Ahmad Maruf Maulana, menyatakan bahwa outlook negatif ini adalah "peringatan serius bagi pemerintah terkait ketidakpastian kebijakan." Ia menambahkan, "Pasar global mulai melihat meningkatnya ketidakpastian kebijakan."
HKI khawatir penurunan outlook akan berdampak pada iklim investasi, meningkatkan biaya pembiayaan proyek, dan mengikis kepercayaan investor. Sektor manufaktur strategis membutuhkan investasi jangka panjang yang besar.
Stabilitas kebijakan fiskal, konsistensi regulasi, dan tata kelola ekonomi yang kredibel menjadi kunci menarik investor. Perubahan persepsi risiko negara dapat meningkatkan cost of capital bagi proyek industri.
Ahmad mengatakan, "Investor global cenderung menunda atau meninjau ulang rencana ekspansi ketika mereka melihat adanya ketidakpastian kebijakan makroekonomi." HKI mendesak pemerintah untuk memperkuat kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan indikator makroekonomi Indonesia masih aman, dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam batas aman dan pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 5,11 persen.
Purbaya mengatakan, "Mungkin karena masih pemerintahan baru dan Menteri Keuangan juga baru, jadi mereka sanksi jangan-jangan Menteri Keuangan nggak bisa berhitung." Pemerintah akan memaksimalkan semua mesin pertumbuhan ekonomi.
Purbaya akan menjelaskan kebijakan fiskal Indonesia dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia di Washington, D.C., April mendatang. "Jadi April saya akan keluar negeri untuk memastikan bahwa Menteri Keuangan kita mengerti apa yang dikerjakan," ujar Purbaya.











