Jakarta – Setiap tanggal 1 April, masyarakat global merayakan April Mop dengan melontarkan lelucon, melakukan aksi jahil, hingga menyebarkan berita bohong ringan. Perayaan ini menjadi ajang bagi banyak orang untuk mengerjai teman, keluarga, maupun rekan kerja dengan cara-cara kreatif.
Saat target berhasil tertipu, pelaku biasanya akan mengungkapkan aksinya dengan seruan “April Mop!”. Dalam momen ini, seseorang diperbolehkan melontarkan lelucon atau berbohong tanpa harus merasa bersalah.
Terdapat berbagai teori mengenai asal-usul tradisi ini. Salah satu yang paling populer merujuk pada perubahan kalender di Prancis pada abad ke-16, yakni peralihan dari Kalender Julian ke Kalender Gregorian.
Perubahan tersebut memindahkan perayaan tahun baru dari 1 April ke 1 Januari. Mereka yang tetap merayakan tahun baru pada 1 April kemudian dijuluki sebagai “April Fools”.
Di Prancis, tradisi ini dikenal dengan istilah ‘poisson d’avril’ atau ikan April. Lelucon yang dilakukan biasanya berupa menempelkan ikan kertas di punggung orang lain, yang melambangkan sosok yang mudah tertipu.
Sementara itu, para sejarawan menghubungkan April Mop dengan festival Hilaria di Roma kuno yang dirayakan pada akhir Maret oleh anggota Sekte Cybele. Dalam festival tersebut, masyarakat melakukan penyamaran dan saling mengejek, bahkan terhadap para hakim. Aksi ini terinspirasi dari kisah dewa-dewi Mesir, yakni Isis, Osiris, dan Seth.
Teori lain menyebutkan bahwa di Norwegia, April Mop berakar dari perayaan untuk menghormati Loki, dewa perusak dan kekacauan.
Tradisi ini terus berkembang dan meluas hingga ke Inggris pada periode 1700-an. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan saling menjahili dan melempar lelucon hingga tengah malam ini telah menjadi fenomena budaya yang diakui secara global.











