Jakarta – Konflik yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat, dengan dukungan Israel, menyebabkan gangguan serius pada aktivitas ekonomi di Timur Tengah, terutama di wilayah Teluk. Kondisi ini secara langsung berdampak pada lonjakan biaya logistik dan menghambat arus perdagangan internasional.

Ketua Komite Bilateral Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Mohamad Bawazeer, menyatakan bahwa ketidakpastian akibat perang menyebabkan tarif dasar pengiriman barang melalui laut atau ocean rate melonjak hingga tiga kali lipat.

Bawazeer menjelaskan, banyak perusahaan pelayaran kini memilih bersikap wait and see dan menahan diri untuk mengeluarkan nomor booking demi menghindari risiko keamanan. Akibatnya, sejumlah kapal terpaksa menghindari jalur Bab-el-Mandeb di Laut Merah dan memutar melalui benua Afrika untuk mencapai Terusan Suez.

Perubahan rute ini menyebabkan waktu pengiriman (delivery time) membengkak hingga dua bulan. Padahal, dalam kondisi normal, pengiriman barang ke Pelabuhan Dammam dan Jeddah hanya membutuhkan waktu 15 hingga 20 hari.

Selain itu, ribuan kontainer dilaporkan tertahan di Pelabuhan Jabal Ali karena kesulitan melintasi Selat Hormuz. Kondisi ini mengganggu pasokan produk jadi maupun bahan baku industri di Arab Saudi, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga barang di pasar.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa eskalasi konflik ini berpotensi menekan sektor perdagangan Indonesia, terutama yang berkaitan dengan energi dan biaya logistik.

Menurut Budi, dampak paling signifikan akan dirasakan jika terjadi gangguan pada distribusi minyak global, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz. Sektor energi diprediksi menjadi pihak pertama yang terdampak.

Lebih lanjut, Budi menyebut sektor manufaktur Indonesia menjadi salah satu yang paling rentan. Industri pengolahan yang sangat bergantung pada energi untuk proses produksi akan menghadapi tantangan besar akibat ketidakpastian pasokan dan kenaikan biaya operasional yang dipicu oleh konflik tersebut.

Bawazeer mengungkapkan bahwa perang tersebut menyebabkan tarif dasar pengiriman barang melalui laut (ocean rate) melonjak hingga tiga kali lipat.

Menurut Bawazeer, banyak perusahaan pelayaran kini mengambil sikap waspada (wait and see) dan enggan mengeluarkan nomor pemesanan (booking) karena tingginya risiko keamanan. Akibatnya, sejumlah kapal memilih rute alternatif dengan menghindari Bab-el-Mandeb di Laut Merah dan memutar melalui benua Afrika untuk masuk ke Terusan Suez.

Perubahan rute ini memperpanjang waktu pengiriman (delivery time) secara signifikan, yakni mencapai dua bulan. Padahal, dalam kondisi normal, pengiriman ke Pelabuhan Dammam dan Jeddah hanya membutuhkan waktu 15 hingga 20 hari.

Selain itu, ribuan kontainer dilaporkan tertahan di Pelabuhan Jabal Ali karena kesulitan melintasi Selat Hormuz. Bawazeer menegaskan bahwa hambatan ini mengganggu pasokan produk jadi maupun bahan baku industri di Arab Saudi, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga barang.

Budi Santoso menyatakan bahwa ketegangan antara AS dan Iran berpotensi menekan sektor perdagangan Indonesia, terutama yang berkaitan dengan energi dan biaya logistik.

Budi menjelaskan bahwa dampak paling signifikan akan dirasakan jika terjadi gangguan pada distribusi minyak global atau penutupan Selat Hormuz. Sektor energi diprediksi menjadi pihak pertama yang terdampak.

Lebih lanjut, sektor manufaktur Indonesia yang bergantung pada energi dalam proses produksinya akan menghadapi kenaikan biaya operasional. Hal ini berisiko menekan margin usaha dan mendorong kenaikan harga barang, yang pada akhirnya dapat menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Selain tekanan biaya produksi, sektor ekspor nasional juga menghadapi tantangan ganda berupa pelemahan permintaan global akibat ketidakpastian ekonomi yang dipicu oleh konflik tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *