Jayapura – Laksma (Mar) F.J.H Pardosi, komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) X/Jayapura, menuai pujian dari berbagai elemen masyarakat papua atas kepemimpinannya yang humanis dan berorientasi pada kearifan lokal. Pendekatan budaya dan edukatif dalam menjaga stabilitas maritim,sinergi dengan masyarakat adat,serta partisipasi aktif dalam kegiatan sosial menjadi poin utama apresiasi tersebut.
Nerlince Wamuar, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua, pada Rabu (9/7/2025) menyampaikan apresiasinya atas hubungan baik yang terjalin antara Lantamal X dan masyarakat adat. Ia menilai Laksma pardosi sebagai sosok pemimpin yang dekat dengan masyarakat.
“Beliau hebat, sebagai orang nomor satu di Lantamal X, mau datang langsung ke kantor MRP. Itu suatu kehormatan bagi kami. Hubungan kami jadi sangat baik sejak saat itu,” ujar Nerlince. Ia menambahkan, Laksma Pardosi tidak hanya menjalin komunikasi yang baik, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan seperti penanaman mangrove, penanaman jagung, serta aksi bersih sungai dan pantai. Inisiatif Laksma Pardosi untuk mengusulkan penggunaan nama lokal bagi Lantamal Jayapura, menggantikan istilah berbahasa Sanskerta, juga dinilai sangat membanggakan. “Itu sangat luar biasa. Beliau punya keberpihakan pada kearifan lokal,” imbuhnya.
Senada dengan Nerlince, tokoh adat Papua, Melly Auwy, menyampaikan apresiasi serupa.Ia menilai Laksma Pardosi layak mendapatkan penghargaan atas kedekatannya dengan masyarakat adat.Melly mengungkapkan, “Saya sendiri ikut melihat bagaimana beliau duduk bersama para-para adat, berdiskusi dan mendengarkan dengan hati. Itu bukan hal yang biasa dilakukan pemimpin militer.”
Masyarakat adat, lanjut Melly, merasa lebih dihargai dan dilibatkan. Ia berharap komunikasi yang telah terjalin dapat terus dipertahankan dan diperkuat.”Kehadiran Laksma Pardosi diterima alam Papua, para leluhur, dan diberkati Tuhan,” pungkasnya.
Dr. Laus Rumayon, Ketua Analisis Papua Strategis dan dosen FISIP Universitas Cenderawasih, menilai pendekatan Laksma Pardosi dalam menjaga stabilitas kawasan maritim sangat tepat.Laus menjelaskan, “Pendekatan beliau tidak hanya bersifat kewilayahan, tapi juga menyentuh sisi antropologis dan sosiologis. Ia membangun stabilitas melalui pemberdayaan masyarakat pesisir dan budaya maritim.”
Menurut Laus, pendekatan yang digunakan Lantamal X mencerminkan sinergi antara kekuatan militer dan nilai-nilai kemanusiaan. Ia juga menyoroti peningkatan kerja sama antara Lantamal X dan masyarakat sipil serta lembaga pendidikan, termasuk dalam edukasi lingkungan dan pelestarian laut. “Kepemimpinan Laksma Pardosi termasuk dalam kategori partisipatif. Ia bukan tipe pemimpin yang hanya memberi perintah, tapi mau mendengar dan melibatkan semua pihak dalam mencari solusi bersama,” ujarnya.
Dalam mendukung program pemerintah daerah di Kota Jayapura, Laksma Pardosi telah menginisiasi sejumlah program kolaboratif antara Lantamal X dan pemda, seperti Kampung Pelangi, edukasi publik melalui seminar kemaritiman dan kesehatan laut, serta festival budaya dan olahraga perairan.
Selain itu, Lantamal X di bawah komando Laksma Pardosi juga menjalin kerja sama dengan Duta Besar Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito, dalam mengintegrasikan program Kampung Bahari Nusantara (KBN) dengan konsep blue Natural Capital. Program ini mencakup perekonomian melalui budidaya ikan laut dan air tawar, serta ketahanan lingkungan melalui edukasi dan praktik pelestarian ekosistem bahari.
Inisiatif ini sejalan dengan arahan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, laksamana TNI Dr.Muhammad Ali, serta merupakan bagian dari pelaksanaan program Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto.
Dengan pendekatan menyeluruh ini, Laksma Marinir F.J.H Pardosi dinilai tidak hanya menjalankan peran sebagai pemimpin militer, tetapi juga sebagai pelayan masyarakat dan penggerak perubahan sosial di tanah Papua.
Masyarakat adat dan tokoh Papua berharap Laksma Pardosi dapat bertugas lebih lama di Bumi Cenderawasih.
Melly Auwy mengatakan, “Kami belum puas dengan kepemimpinan beliau. Baru sebentar, tapi dampaknya sudah begitu besar. Kalau bisa, jangan cepat dipindahkan.”
Nerlince Wamuar juga menilai kehadiran Laksma Pardosi telah menciptakan iklim saling percaya antara institusi militer dan masyarakat.”Kalau semua pemimpin seperti beliau, Papua akan damai dan maju. Kami berharap negara memberi waktu lebih lama bagi beliau untuk menuntaskan semua program baik ini,” tutupnya.











