Jakarta – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia memicu lonjakan signifikan dalam kejahatan siber. Data dari Kaspersky mengungkapkan bahwa sepanjang tahun lalu, sebanyak 14,9 juta serangan berbasis web berhasil dicegah di Indonesia.
Jumlah ini setara dengan 40.848 upaya serangan siber setiap hari. Lebih dari 22 persen pengguna di Indonesia menghadapi ancaman daring antara Januari hingga Desember 2025. Data ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-84 secara global dalam hal risiko aktivitas daring.
General Manager Kaspersky untuk ASEAN, Simon Tung, menekankan bahwa keamanan siber adalah aspek penting dalam implementasi AI. "Keamanan siber adalah aspek krusial dalam implementasi AI," ujar Tung, Selasa (3/3/2026).
Tung menekankan pentingnya tim IT memiliki tim operasi keamanan yang mampu memantau dan menanggulangi ancaman siber. Perlindungan data pribadi pengguna juga harus menjadi prioritas utama.
Kaspersky memprediksi peningkatan insiden siber yang lebih canggih di tahun ini. AI menjadi faktor utama yang menghubungkan sebagian besar risiko yang muncul.
AI dapat membantu pelaku kejahatan siber dalam merancang serangan, menyelidiki infrastruktur, dan menghasilkan konten berbahaya yang lebih meyakinkan.
Serangan siber umumnya memanfaatkan celah keamanan pada browser dan plugin, serta rekayasa sosial untuk menembus sistem.
Oxford Insight mencatat tingkat kesiapan AI di Indonesia mencapai 65,85 persen.
Lima negara teratas dengan persentase pengguna yang paling banyak diserang melalui web adalah Belarusia (37,6 persen), Andorra (37,6 persen), Tajikistan (34,5 persen), Ukraina (34,5 persen), dan Yunani (33,9 persen).











