Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$ 41,05 miliar selama periode Januari hingga Desember 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan surplus ini meningkat sebesar US$ 9,72 miliar. "Dengan capaian ini, maka neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus selama 68 bulan berturut-turut," ujar Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Selasa (2/2/2026).

Nilai ekspor Indonesia sepanjang tahun 2025 mencapai US$ 282,91 miliar, naik 6,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara itu, nilai impor tercatat sebesar US$ 241,86 miliar, meningkat 2,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Surplus neraca perdagangan ini telah berlangsung secara beruntun sejak Mei 2020.

Pada Desember 2025, surplus tercatat sebesar US$ 2,51 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$ 2,66 miliar. Komoditas nonmigas menjadi penopang utama surplus, terutama didorong oleh ekspor lemak dan minyak nabati. Namun, neraca perdagangan migas mengalami defisit, dengan minyak mentah sebagai penyumbang terbesar.

Amerika Serikat menjadi negara penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia, dengan nilai US$ 18,11 miliar. India menyusul di urutan kedua dengan surplus US$ 13,49 miliar, dan Filipina di urutan ketiga dengan US$ 8,42 miliar. Sebaliknya, Tiongkok menjadi negara penyumbang defisit terdalam dengan nilai negatif US$ 20,50 miliar. Australia dan Singapura juga mencatatkan defisit perdagangan dengan Indonesia, masing-masing sebesar US$ 5,65 miliar dan US$ 5,47 miliar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *