Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menjatuhkan sanksi kepada sejumlah pejabat terkait insiden kebocoran pipa gas PT Transportasi Gas Indonesia (TGI). Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan adanya indikasi kelalaian dalam peristiwa yang berdampak signifikan pada produksi Blok Rokan.

Akibat kebocoran ini, potensi kehilangan produksi minyak diperkirakan mencapai 2 juta barel di awal tahun 2026. "Pipa kita bocor dan kehilangan potensi produksi kurang lebih sekitar 2 juta barel di awal tahun," ujar Bahlil dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (22/1/2026).

Bahlil menekankan, meskipun insiden ini dikategorikan sebagai kecelakaan, unsur kelalaian tetap tidak bisa ditoleransi. Ia menyoroti pentingnya peningkatan pengawasan dan mitigasi risiko untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa aliran gas telah berangsur pulih. "Semalam pukul 24.00 aliran gas sudah dibuka penuh," kata Laode, Rabu (21/1/2026).

Laode menambahkan, tekanan gas saat ini sudah berada pada level aman untuk disalurkan ke wilayah tujuan, termasuk Blok Rokan. Kebocoran pipa gas TGI ini sebelumnya menyebabkan terhentinya produksi migas di Blok Rokan selama hampir tiga pekan.

Kementerian ESDM menargetkan penambahan produksi harian sebesar 5.000-6.000 barel untuk menutupi kerugian akibat insiden tersebut. Langkah ini diambil untuk memastikan target lifting migas nasional tahun 2026 sebesar 610.000 barel per hari tetap tercapai.

Laode memperkirakan normalisasi penuh aliran gas dan produksi di Blok Rokan akan tercapai dalam dua hari mendatang. PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pertama kali menerima laporan dugaan kebocoran pipa gas pada tanggal 2 Januari 2026. Pipa gas TGI memiliki peran vital sebagai sumber listrik untuk mengoperasikan pompa angguk di Blok Rokan.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.