Makkah – Petugas Kloter 14 Embarkasi Padang menggelar bimbingan khusus fikih haji bagi jemaah perempuan di Makkah untuk membekali mereka menghadapi situasi haid selama berada di Tanah Suci.
Pendampingan yang dipimpin Pembimbing Ibadah Kloter 14, Tri Andriani Jusair, itu membahas sejumlah persoalan penting, mulai dari umrah wajib hingga Tawaf Ifadhah pada puncak ibadah haji.
Bimbingan berlangsung di lorong kamar lantai 9 Tower 9C, Makkah, dengan suasana santai. Namun, para jemaah perempuan tetap mengikuti penjelasan dengan serius sambil mencatat materi yang disampaikan.
Tri menjelaskan, jemaah perempuan yang sedang haid tetap boleh menjalankan sunnah ihram, kecuali salat sunnah ihram. Mereka juga tetap mengenakan pakaian ihram dan melafalkan niat.
“Ketika tiba di Makkah, jemaah bisa beristirahat sampai suci, kemudian mandi wajib sebelum melaksanakan umrah wajib,” kata Tri.
Ia menegaskan, sejak mengucapkan niat ihram di miqat, jemaah tetap terikat seluruh larangan ihram meski sedang haid. Karena itu, ia mengingatkan jemaah agar menjaga diri supaya tidak melanggar ketentuan ihram.
Selain umrah wajib, bimbingan itu juga menyoroti persoalan fikih kontemporer yang kerap muncul saat pelaksanaan Tawaf ifadhah.
Tri menyebut, jemaah yang masih memiliki waktu tinggal cukup lama di Makkah dapat menunda tawaf hingga suci. Namun, kondisi berbeda dialami jemaah yang jadwal kepulangannya sudah dekat.
Dalam keadaan itu, petugas menjelaskan beberapa solusi, termasuk penggunaan obat penunda haid berdasarkan rekomendasi dokter sebelum fase Armuzna.
Tri juga menyampaikan pandangan ulama Ibnu Taimiyah terkait kondisi darurat bagi jemaah yang belum suci menjelang kepulangan. Dalam situasi tertentu, jemaah diperbolehkan melaksanakan Tawaf Ifadhah dengan tetap memastikan darah tidak menetes ke area masjid.
“ini menjadi solusi darurat agar jemaah tetap dapat menyempurnakan rukun hajinya,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Senin, 18 Mei 2026.
Bimbingan itu mendapat perhatian besar dari jemaah perempuan Kloter 14 Padang. Banyak di antara mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi langsung mengenai persoalan ibadah yang mereka hadapi selama berada di Tanah Suci.











