Jakarta – Pemerintah Indonesia menyatakan sikap tenang terkait potensi penerapan tarif tambahan oleh Amerika Serikat (AS) bagi negara-negara yang menjalin hubungan dagang dengan Iran.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa volume perdagangan antara Indonesia dan Iran relatif kecil, sehingga ancaman tarif tersebut diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional.

"Tidak ada kekhawatiran, kita transaksinya tidak besar," ujar Airlangga di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (13/1/2026). Pernyataan ini merupakan respons terhadap pengumuman mantan Presiden AS Donald Trump terkait potensi pengenaan tarif 25 persen bagi negara yang berdagang dengan Iran.

Pengumuman tersebut disampaikan melalui akun media sosial pribadinya. "Berlaku segera, setiap negara yang melakukan bisnis dengan Iran akan dikenakan tarif sebesar 25 persen atas semua transaksi bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat. Perintah ini bersifat final dan mengikat," tulis Trump.

Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa total perdagangan Indonesia-Iran pada tahun 2023 mencapai US$ 206,9 juta. Angka ini mengalami penurunan sebesar 19,31 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Ekspor Indonesia ke Iran tercatat sebesar US$ 195,1 juta, sementara impor dari Iran mencapai US$ 11,7 juta. Indonesia mencatatkan surplus perdagangan dengan Iran sebesar US$ 183,4 juta.

Sementara itu, Kedutaan Besar Virtual AS di Iran mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk segera meninggalkan Iran. Imbauan ini dikeluarkan seiring meningkatnya aksi protes di Iran yang berpotensi menjadi kerusuhan. Kedubes AS juga melaporkan adanya pembatasan akses internet dan gangguan transportasi di Iran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *