Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah spekulasi bahwa pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi penyebab utama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Rupiah sebelumnya sempat menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS.
Purbaya menegaskan bahwa tren pelemahan rupiah telah terjadi sebelum proses pencalonan Thomas Djiwandono dimulai. "Kalau Anda lihat kan rupiahnya melemah sebelum Pak Thomas ditunjuk, melemah terus-terusan. Jadi itu bukan isu," ujarnya pada Kamis (22/1/2026).
Menteri Keuangan menekankan pentingnya sinergi antara BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar mata uang. "Kami percaya bank sentral punya strategi yang pas untuk mengendalikan nilai tukar," katanya.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa pelemahan rupiah hingga mendekati Rp 17.000 per dolar AS dipicu oleh faktor-faktor internal. Perry menyebut persepsi pasar terhadap proses pencalonan Deputi Gubernur BI turut memberikan tekanan pada mata uang Indonesia.
"Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan Deputi Gubernur," ungkap Perry dalam konferensi pers pada Rabu (21/1/2026). Perry menegaskan bahwa proses pencalonan telah sesuai dengan undang-undang dan tidak mempengaruhi tugas serta kewenangan BI.
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky sebelumnya memprediksi bahwa pencalonan Thomas Djiwandono dapat memperburuk sentimen pasar. Riefky khawatir investor menganggap ekonomi Indonesia tidak sehat karena proses pengambilan kebijakan saat ini.
Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendah Rp 16.956 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (21/1/2025). Pada penutupan perdagangan Kamis (22/1/2026), rupiah menguat 0,24 persen ke level Rp 16.956 per dolar AS.











