Balikpapan – Standar Euro 5 akan menjadi standar baru bagi bahan bakar minyak (BBM) nasional. Peningkatan kualitas BBM ini merupakan hasil dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menyatakan, penerapan standar Euro 5 adalah upaya pemerintah menekan emisi gas buang.

"Euro 5 lebih efisien dan emisinya lebih rendah," kata Agus Harimurti Yudhoyono saat peresmian RDMP di Balikpapan, Selasa (13/1/2026).

Modernisasi kilang Balikpapan memungkinkan produksi BBM dengan kandungan sulfur yang lebih rendah.

RDMP Balikpapan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Proyek ini dikelola PT Kilang Pertamina Internasional melalui PT Kilang Pertamina Balikpapan.

Peningkatan kualitas BBM dinilai penting untuk menekan dampak lingkungan dari sektor transportasi. Sektor ini menjadi salah satu penyumbang utama polusi udara di kawasan perkotaan.

Pemerintah menilai penerapan standar Euro 5 sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan dan transisi energi.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menekankan pentingnya pembangunan energi yang memperhatikan aspek lingkungan.

Pemerintah berencana mengombinasikan modernisasi kilang dengan pengembangan energi terbarukan seperti tenaga air dan surya.

RDMP Balikpapan merupakan salah satu proyek kilang terbesar di Indonesia dengan nilai investasi sekitar Rp 123 triliun.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menjelaskan RDMP Balikpapan dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama proyek.

Lingkup pertama adalah early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan. Pekerjaan ini meliputi persiapan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, dan penyediaan utilitas sementara.

Lingkup kedua meliputi pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit. Terdiri dari 21 unit proses baru serta 13 unit fasilitas utilitas pendukung.

Lingkup ketiga adalah penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah. Termasuk pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.

Pertamina juga membangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci. Selain itu, unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *