Jakarta – Pemerintah dituding melakukan sensor terhadap kritik publik di media sosial dengan dalih moderasi konten. Tindakan ini dinilai sebagai bentuk otoritarianisme digital dan upaya membungkam suara rakyat.Kritik tajam di media sosial meningkat sebagai respons terhadap kebijakan gaji fantastis anggota DPR dan pernyataan kontroversial para anggota dewan.
Alih-alih membuka dialog, pemerintah justru menutup akses informasi dengan alasan menjaga stabilitas.
“Stabilitas macam apa yang terjaga dengan cara membungkam suara rakyat?”
Moderasi konten seharusnya menjadi tugas platform seperti TikTok dan Meta, yang memiliki aturan komunitas, algoritma, sistem aduan, dan tim moderator.
Namun, intervensi negara dengan tekanan dan ancaman sanksi dianggap sebagai bentuk sensor.
TikTok Indonesia sempat membekukan fitur live streaming, yang disebut sebagai tindakan “sukarela” namun diduga kuat atas tekanan pemerintah.
Padahal, live streaming menjadi kanal penting jurnalisme warga yang justru ditakuti karena transparansinya.
KPI juga disebut mengeluarkan edaran agar stasiun TV tidak menayangkan demonstrasi dengan “kekerasan berlebihan,” yang dinilai sebagai bentuk sensor tidak langsung.
Pemerintah berdalih tindakan ini demi “keamanan nasional,” namun seharusnya transparansi algoritma, verifikasi konten, dan edukasi literasi digital menjadi solusi yang lebih modern dan elegan.
pemanggilan perwakilan TikTok Asia Pacific dan Meta oleh pemerintah juga dinilai sebagai refleksi kegagalan mengelola narasi politik.
Tindakan sensor ini dinilai sebagai jalan pintas karena targetnya bukan hoaks, melainkan kritik politik.
Akibatnya, kredibilitas negara menurun, rakyat semakin sinis, dan ruang publik digital terasa seperti rumah dengan CCTV di setiap sudut.
Pemerintah diminta menghentikan paranoia digital, membiarkan publik bersuara, membuka ruang dialog, dan fokus pada substansi masalah seperti kebijakan yang timpang dan keadilan sosial.
“Segala bentuk sensor hanyalah jalan pintas yang buruk, karena suara rakyat tidak pernah bisa dibungkam.”











