Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada (UGM) mengirimkan tim khusus untuk membantu korban bencana hidrometeorologi di Sumatera, dengan fokus pada pemulihan berbasis teknologi.
UGM mengerahkan sumber daya dari berbagai fakultas, unit kerja, dan mitra kemanusiaan untuk mempercepat respons dan memastikan bantuan tepat sasaran.
Rektor UGM, Ova Emilia, menegaskan bahwa pembentukan tujuh kelompok kerja lintas disiplin menjadi kunci efektivitas penanganan bencana.
"Pembentukan tujuh kelompok kerja ini bertujuan memastikan respons berjalan terkoordinasi, berbasis data, dan relevan dengan kebutuhan lapangan," ujar Ova, Minggu (4/1/2026).
Tujuh kelompok kerja tersebut meliputi pemetaan spasial, kesehatan, psikososial, pendidikan, hunian, hingga koordinasi kelembagaan.
Salah satu fokus utama tim UGM adalah pemetaan cepat dan analisis spasial kebencanaan, menghasilkan peta wilayah terdampak, akses jalan, fasilitas kesehatan, hingga kebutuhan masyarakat.
Data spasial tersebut dikonsolidasikan melalui geoportal dan dikelola secara terkontrol, serta dibagikan kepada BRIN dan terhubung dengan BNPB.
Teknologi spasial juga dimanfaatkan untuk menentukan zona aman pembangunan hunian sementara dan tetap bagi para korban.
Di sektor kesehatan, UGM mengaktifkan layanan medis bergerak melalui jejaring Academic Health System, dengan tim lintas disiplin memberikan layanan klinis hingga penguatan sistem kesehatan pascabencana.
Selain itu, UGM memasang sistem penjernih air bertenaga surya untuk memenuhi kebutuhan air bersih, yang mampu menyuplai ribuan liter air per hari bagi pengungsian dan fasilitas kesehatan.











