Jakarta – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berpotensi gagal memasok bijih nikel ke pabrik pengolahan HPAL (high pressure acid leaching) setelah pemerintah hanya menyetujui 30% dari kuota produksi yang diajukan.

Direktur Utama PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menyampaikan kekhawatiran ini saat rapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (19/1/2026).

Menurut Bernardus, persetujuan kuota yang jauh di bawah harapan ini berpotensi mengganggu kerja sama dengan sejumlah produsen global. Huayou, Ford Motor, dan EcoPro adalah beberapa perusahaan yang telah bermitra dengan Vale untuk pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik.

"Kuota yang diberikan kepada PT Vale hanya sekitar 30 persen dari yang kami ajukan," kata Bernardus. "Dengan kondisi ini, kemungkinan besar kami tidak dapat memenuhi komitmen terhadap pabrik-pabrik yang telah kami jelaskan."

Hingga November 2025, produksi bijih nikel Vale mencapai 12,80 juta ton, di bawah target RKAP 2025 sebesar 16,60 juta ton.

Target tersebut meningkat sekitar 9 persen dibandingkan realisasi produksi tahun 2024 yang mencapai 15,20 juta ton.

Sementara itu, produksi nikel matte Vale mencapai 66.848 ton hingga November 2025, tumbuh 3 persen secara tahunan.

Total penjualan nikel matte sepanjang tahun berjalan mencapai 67.351 ton atau naik 2 persen secara tahunan.

Vale juga mencatat kemajuan ekspansi kegiatan komersial melalui penjualan bijih nikel saprolit dari Pomalaa dan Bahodopi. Penjualan mencapai 1.905.740 wet metric ton (wmt) hingga November 2025.

Bernardus berharap pemerintah memberikan kesempatan bagi Vale untuk merevisi RKAB. Kebutuhan bijih nikel perseroan diproyeksikan meningkat signifikan seiring target penyelesaian proyek HPAL di Pomalaa dan Morowali pada 2026.

Proyek HPAL Pomalaa diperkirakan membutuhkan pasokan sekitar 21 juta ton limonit per tahun. Sementara proyek HPAL Morowali memerlukan sekitar 10,4 juta ton limonit per tahun.

Vale memproyeksikan tiga proyek pabrik HPAL rampung pada 2026 dan 2027. Proyek tersebut berlokasi di Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, IGP Morowali, dan IGP Sorowako.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *