Jakarta – Bank Indonesia (BI) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan inflasi akibat eskalasi konflik Iran-Israel. Kenaikan harga minyak dunia menjadi perhatian utama karena berpotensi mendongkrak biaya transportasi dan produksi, termasuk sektor pangan.

Bank sentral akan terus memantau secara ketat perkembangan indikator global. Hal ini ditegaskan oleh Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman.

BI mengidentifikasi tiga jalur utama yang dapat memengaruhi perekonomian domestik.

"Kita sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak, harga emas, dan nanti juga penting untuk melihat harga pangan," ujar Aida, Selasa (3/3/2026).

Selain harga komoditas, BI juga mencermati kondisi pasar keuangan yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.

Fluktuasi nilai tukar berpotensi berdampak pada harga barang impor dan stabilitas harga di dalam negeri.

Bank sentral juga mewaspadai perlambatan perdagangan global yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi dinamika permintaan dan inflasi.

"Komitmen BI tetap menjaga stabilitas. Dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga inflasi," tegas Aida.

Pada Februari 2026, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat meningkat menjadi 4,76 persen secara tahunan (year on year).

Kenaikan ini dipengaruhi oleh low base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik pada tahun sebelumnya.

Kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatatkan inflasi sebesar 12,66 persen pada Februari 2026.

Angka ini melonjak signifikan dibandingkan dengan Februari tahun sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar minus 9,02 persen.

BI menilai prospek ekonomi domestik pada 2026 masih terjaga dengan baik.

Aida menekankan pentingnya memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi, terutama pada kuartal I.

Periode ini didorong oleh sejumlah hari raya keagamaan yang meningkatkan konsumsi masyarakat.

Konsumsi pemerintah juga diperkirakan akan meningkat, seiring dengan komitmen pemerintah untuk merealisasikan belanja pada kuartal I.

"Kalau itu terjadi, tentunya konsumsi swasta akan mengalami peningkatan dan ini mengakibatkan permintaan domestik mengalami peningkatan dan juga produksi-produksi lainnya," jelas Aida.

Aida mengingatkan pentingnya menjaga permintaan domestik di tengah ketidakpastian global.

Penguatan sumber pertumbuhan dari dalam negeri menjadi kunci untuk mempertahankan stabilitas dan momentum ekonomi.

Secara keseluruhan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada pada kisaran 4,9-5,7 persen.

Inflasi diproyeksikan tetap terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

"Tentunya tentang jalur (tiga jalur utama yang dicermati BI) berbagai macam dampak dari perang, nanti akan kita terus melakukan monitoring lebih lanjut," pungkas Aida.

Dari sisi eksternal, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap terkendali pada kisaran 0,9 persen sampai dengan 0,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *