Jakarta – Konsumen di Indonesia harus bersiap menghadapi potensi kenaikan harga smartphone pada tahun 2026. Pemicunya adalah lonjakan biaya komponen RAM yang signifikan.

Menurut lembaga riset Counterpoint, kenaikan harga RAM dan penyimpanan NAND menjadi faktor utama yang mendorong prediksi ini.

Counterpoint mencatat bahwa biaya RAM untuk smartphone telah melonjak sebesar 50 persen dari kuartal ke kuartal (Q-to-Q). Sementara itu, biaya penyimpanan NAND mengalami kenaikan lebih dari 90 persen pada periode yang sama.

Analis Senior Counterpoint, Shenghao Bai, menyatakan bahwa dampak dari kenaikan biaya ini tidak dapat dihindari bagi konsumen.

"Harga eceran yang lebih tinggi tidak dapat dihindari karena kenaikan biaya akan diteruskan ke konsumen," ujarnya.

Kenaikan biaya memori ini berdampak signifikan pada Bill of Materials (BoM) atau biaya material pembuatan smartphone secara keseluruhan.

Smartphone kelas bawah diperkirakan akan menjadi yang paling terdampak. Counterpoint memperkirakan bahwa untuk smartphone kelas bawah, biaya RAM akan menghabiskan sekitar 43 persen dari total BoM.

Sementara itu, untuk smartphone kelas menengah, biaya RAM dan penyimpanan diperkirakan akan naik masing-masing sebesar 15 persen dan 11 persen.

Counterpoint memprediksi bahwa harga smartphone kelas bawah berpotensi naik sekitar US$30 (sekitar Rp500 ribu). Untuk smartphone premium, kenaikan harga bisa mencapai US$150-200 (sekitar Rp2,3 juta – Rp3,1 juta).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *